Kopitalisme

KopitalismeII-A
Home | The Author | Kumaniora | Hole Spirit | KutuKata | Etalase | Das KOPIkenTal | Kitab al-Capuccino | Tafsir al-Gitar | Perpuskataan | F.U.C.K | Buku Tamu | Kopitalisme Toolbar | Partners | Sponsor | Cafeist Prophecies | Hukum Hukum Kopitalisme | PatanYali Factor | Forum Diskusi

HUKUM HUKUM KOPITALISME II-A

A Matter of symbols?

Selain beberapa kendala 'institusional' juga ada beberapa hambatan dalam pengembangan pemahaman pada implementasi konsep 'Kopitalisme'. Kendala yang merupakan implikasi dari 'polarisasi sosilogis' di tengah masyarakat kita. Diantaranya adalah tentang 'simbol simbol' intelektualitas yang -pada skala tertentu- mempunyai dampak terhadap apa yang disebut dengan 'kesombongan institusional'… The worst case: 'Logical fanatism.' Yang akan kita uraikan lebih lanjut.

'People needs symbols more than they needs them selves' Tersurah dalam Kitab http://sekspeare.tk Ayat 1. Diriwayatkan oleh Well… I am Sekspeare.

Metodologi dalam pencermatan hipotesa diatas, yakni adanya implikasi 'polarisasi sosiologis' akan terlihat oleh reaksi bermacam macam 'kepala' yang 'kena timpuk'sesuai  dengan experimen 'lempar batu-sembunyi mouse' pada buku 'Kebunku Nusantara' yang ketika dilakukan akan 'mengena' beberapa kepala dengan beberapa kemungkinan reaksi pula.  Memang 'experimen' ini tetap tunduk pada hukum 'aksi – reaksi'. Mari kita simak:

"I want to break free…"

Ketika 'batu' yang dilemparkan keatas dalam 'Kebun Nusantara' jatuh lalu  mengena kepala seseorang yang –relatif- telah terbebas dari simbol tertentu, dalam hal ini dilakukan atas percobaan dengan target 'simbol simbol akademisi', maka sang pemilik kepala menunjukkan reaksi yang legowo dan realistis. Karena 'identitas' diri dan fikirannya tidak terbatasi lagi oleh 'sekelumit' huruf ala kadarnya yang menempel sesudah atau sebelum identitas diri. Namanya dan pengetahuannya telah 'manunggal' dalam diri mereka. Bukan lagi 'depends on' dua tiga huruf macam: Ir, SE, Drs, dan semacamnya.... Dia telah terbebas, liberated, free….

Mereka ini 'truly liberated' serta telah merupakan sosok yang 'universal' seperti halnya makna kata 'universitas' yang berasal dari asal kata 'univers'. Sehingga tidak lagi 'terperangkap' dalam polarisasi sosiologis pada level individual, tidak lagi terbelenggu oleh kesombongan akademistik…

Bahkan lebih bebas dari Almarhum Freddy Mercury yang hingga akhir hayatnya masih teriak teriak "I want to break free… I want to break free from your life, you are so self satisfied… I don’t need you"… Coba rasakan, anda nyanyikan lagu cemerlang itu, sambil membayangkan wajah dosen dosen anda di kampus yang pada gemar 'intellectual exercise' berikut pola fikir 'text book thinking' mereka… Hobby me riset dengan hasil akhir menghabiskan anggaran pendidikan negara dan sawah milik para orang tua mahasiswa di kampung kampung.

Sting pun dalam salah satu sohibul hikayatnya mempertegas harapan kebebasan seseorang dengan berdendang " If you love someone... Set them free"... Nah, ini sebaiknya dinyanyikan oleh para dosen –khususnya sosiolog- sambil menatap wajah mahasiswanya yang selama ini mengeluarkan biaya, tetapi masa depan yang menanti mereka -para mahasiswa- sekelam warna kopi pahit tanpa susu.

Polarisasi sosiologis institusional

Berikut saya ketengahkan dahulu apa yang –dalam teori kopitalisme- ini disebut dengan 'kronologis kebingungan JJ. Harrier'....

Kebingungan JJ. Harrier.

Dipicu oleh kebuntuan regulatif atas mandeknya 'rule of law' seperti di maklumatkan oleh Mr. Poltak Hendarto. Lalu, memahami kebuntuan akan kokohnya 'Tembok Berlin'  dalam menggelar 'rule of law'...  Tiba tiba –kemudian- ada seorang 'cafeist' yang mengajak untuk sejenak 'dancing in style' no worries karena  'Kapitalisme adalah Kultur Bangsa!' yang terlahir -justru- akibat 'persenggamaan' diatas 'ranjang republik' para PoliTikus bersama tokoh tokoh lain demi mengejar 'orgasme kapitalistik' mereka…. 'Tunas kapitalisme' pun lahir bersemi disudut hati kita masing masing… Dari tukang becak… pedagang asongan… pejabat kelurahan… apalagi orang macam si 'cafeist' itu!... Thats the point, where we are now...

Kopitalisme = = > Ekonomi Kerakyatan?

Lho? Kok tiba tiba dari 'Kopitalisme – Ekonomi Kerakyatan – Ekonomi Pancasila?…

Mau memutar balik haluan ke sistem 'sosialisme' seperti 'mimpi' negara negara yang sudah 'almarhum'?….Well, tell you what 'Sosialisme' adalah "Just another symbol of sociological dogma".

'Ide' tentang Kopitalisme = = > Ekonomi Kerakyatan ditandai dengan munculnya Mr. Teewoel yang kegerahan sambil mengantarkan 'sesajian' yang dipersembahkannya 'Ekonomi Pancasila' lengkap dengan bunga rampai berupa 'Tantangan SeksPeare' dan kecemasan 'Sang'.

Pertanyaannya, what next?… Untuk melanjutkan teori kopitalisme 2 ini , akan sangat bijak bila saya mengulangi hukum hukum kopitalisasi pertama, yakni:

Fenomena = = > Interpretasi = = > Etika = => Hukum = = > Ekonomi = = > People... 

Ketika seseorang yang telah terpolarisasi dalam stigma sosiologis pada tataran institusional, maka hukum diatas akan 'membelot' pada fase akhir, dimana 'people' berubah menjadi 'sosialism' dalam arti institusional-konstitusional.  Berakibat dari sebuah kerancuan –sengaja atau tidak sengaja- yang timbul pada fase 'interpretasi'.

Salah satu kerancuan yang disengaja adalah jika pada fase 'interpretasi' ditunggangi oleh kepentingan yang –justru- bernuansa kapitalistik juga, yakni dalam bentuk 'industri pendidikan' demi mengejar 'kesombongan institusional.' Pada gilirannya akan melahirkan 'produk' yang tidak lebih berupa konsep konsep, teori teori dengan 'label dan merk dagang' tertentu. 

Sebagai gambaran adalah:

Fenomena = = > Interpretasi = = > Etika = = > Konsep = = > Industri Pendidikan. 

 

Enter supporting content here

One of the most universal -morning- ritual is to drink coffee:)