A Matter of symbols?
Selain beberapa kendala 'institusional' juga
ada beberapa hambatan dalam pengembangan pemahaman pada implementasi konsep 'Kopitalisme'. Kendala yang
merupakan implikasi dari 'polarisasi sosilogis' di tengah masyarakat kita. Diantaranya adalah tentang 'simbol simbol' intelektualitas
yang -pada skala tertentu- mempunyai dampak terhadap apa yang disebut dengan 'kesombongan institusional'… The worst case: 'Logical fanatism.' Yang akan kita uraikan lebih lanjut.
'People needs symbols more than they needs them selves'
Tersurah dalam Kitab http://sekspeare.tk Ayat 1. Diriwayatkan oleh Well… I am Sekspeare.
Metodologi dalam pencermatan hipotesa diatas, yakni adanya implikasi 'polarisasi
sosiologis' akan terlihat oleh reaksi bermacam macam 'kepala' yang 'kena timpuk'sesuai dengan experimen
'lempar batu-sembunyi mouse' pada buku 'Kebunku Nusantara' yang ketika dilakukan akan 'mengena' beberapa kepala dengan beberapa
kemungkinan reaksi pula. Memang 'experimen' ini tetap tunduk pada hukum 'aksi –
reaksi'. Mari kita simak:
"I want to break free…"
Ketika 'batu' yang dilemparkan keatas dalam
'Kebun Nusantara' jatuh lalu mengena kepala seseorang yang –relatif- telah terbebas dari simbol tertentu,
dalam hal ini dilakukan atas percobaan dengan target 'simbol simbol akademisi', maka sang pemilik kepala menunjukkan reaksi
yang legowo dan realistis. Karena 'identitas' diri dan fikirannya tidak terbatasi lagi oleh 'sekelumit' huruf ala kadarnya
yang menempel sesudah atau sebelum identitas diri. Namanya dan pengetahuannya telah 'manunggal' dalam diri mereka. Bukan lagi 'depends on' dua tiga huruf macam: Ir, SE, Drs, dan semacamnya.... Dia telah
terbebas, liberated, free….
Mereka ini 'truly liberated' serta telah merupakan
sosok yang 'universal' seperti halnya makna kata 'universitas' yang berasal dari asal kata 'univers'. Sehingga tidak lagi
'terperangkap' dalam polarisasi sosiologis pada level individual, tidak lagi terbelenggu oleh kesombongan akademistik…
Bahkan lebih bebas dari Almarhum Freddy Mercury yang
hingga akhir hayatnya masih teriak teriak "I want to break free… I want to break free from your life, you are so self
satisfied… I don’t need you"… Coba rasakan, anda nyanyikan lagu cemerlang itu, sambil membayangkan wajah
dosen dosen anda di kampus yang pada gemar 'intellectual exercise' berikut pola fikir 'text book thinking' mereka… Hobby
me riset dengan hasil akhir menghabiskan anggaran pendidikan negara dan sawah milik para orang tua mahasiswa di kampung kampung.
Sting pun dalam salah satu sohibul hikayatnya
mempertegas harapan kebebasan seseorang dengan berdendang " If you love someone... Set them free"... Nah, ini sebaiknya dinyanyikan
oleh para dosen –khususnya sosiolog- sambil menatap wajah mahasiswanya yang selama ini mengeluarkan biaya, tetapi masa
depan yang menanti mereka -para mahasiswa- sekelam warna kopi pahit tanpa susu.
Polarisasi sosiologis institusional
Berikut saya ketengahkan dahulu apa yang –dalam teori kopitalisme-
ini disebut dengan 'kronologis kebingungan JJ. Harrier'....
Kebingungan JJ. Harrier.
Dipicu oleh kebuntuan regulatif atas mandeknya 'rule of law' seperti di maklumatkan
oleh Mr. Poltak Hendarto. Lalu, memahami kebuntuan akan kokohnya 'Tembok Berlin' dalam menggelar 'rule
of law'... Tiba tiba –kemudian- ada seorang 'cafeist' yang mengajak untuk sejenak 'dancing in style'
no worries karena 'Kapitalisme adalah Kultur Bangsa!' yang terlahir -justru- akibat 'persenggamaan' diatas
'ranjang republik' para PoliTikus bersama tokoh tokoh lain demi mengejar 'orgasme kapitalistik' mereka…. 'Tunas kapitalisme' pun lahir bersemi disudut hati kita masing masing… Dari tukang becak… pedagang asongan…
pejabat kelurahan… apalagi orang macam si 'cafeist' itu!... Thats the point, where we are now...
Kopitalisme = = > Ekonomi Kerakyatan?
Lho? Kok tiba tiba dari 'Kopitalisme – Ekonomi Kerakyatan – Ekonomi
Pancasila?…
Mau memutar balik haluan ke sistem 'sosialisme' seperti 'mimpi' negara negara
yang sudah 'almarhum'?….Well, tell you what 'Sosialisme' adalah "Just another symbol of sociological dogma".
'Ide' tentang Kopitalisme = = > Ekonomi Kerakyatan ditandai dengan munculnya
Mr. Teewoel yang kegerahan sambil mengantarkan 'sesajian' yang dipersembahkannya 'Ekonomi Pancasila' lengkap dengan bunga
rampai berupa 'Tantangan SeksPeare' dan kecemasan 'Sang'.
Pertanyaannya, what next?… Untuk melanjutkan teori kopitalisme 2 ini
, akan sangat bijak bila saya mengulangi hukum hukum kopitalisasi pertama, yakni:
Fenomena = = > Interpretasi = = > Etika = => Hukum = = > Ekonomi
= = > People...
Ketika seseorang yang telah terpolarisasi dalam stigma sosiologis pada tataran
institusional, maka hukum diatas akan 'membelot' pada fase akhir, dimana 'people' berubah menjadi 'sosialism' dalam arti institusional-konstitusional.
Berakibat dari sebuah kerancuan –sengaja atau tidak sengaja- yang timbul pada fase 'interpretasi'.
Salah satu kerancuan yang disengaja adalah jika pada fase 'interpretasi'
ditunggangi oleh kepentingan yang –justru- bernuansa kapitalistik juga, yakni dalam bentuk 'industri pendidikan' demi
mengejar 'kesombongan institusional.' Pada gilirannya akan melahirkan 'produk' yang tidak lebih berupa konsep konsep, teori
teori dengan 'label dan merk dagang' tertentu.
Sebagai gambaran adalah:
Fenomena = = > Interpretasi = = > Etika = = > Konsep = = > Industri
Pendidikan.