RUMAH TANGGA KITA
A. Zaman BK:
Zaman Bung Karno adalah zaman "bertani" dan atau "mencangkul" untuk
menanam padi berikut rempah rempah yang tadinya habis dibawa kabur oleh tetangga nakal... Sekaligus zaman ini adalah juga
sebagai zaman "memasak"...
"Banyak anak, banyak rezeki" menjadi semacam "dogma sosial" bagi
penghuni rumah tangga untuk terus beranak pinak bagai seekor kucing...
Toh, akan banyak makanan yang akan dinikmati bersama secara merata
kelak... Demikian dongeng sohibul hikayat para "tetangga", sejak masa "Karl Marx" hingga ke masa "Karl May"... Sejak
zaman "Lenin" hingga ke zaman "Lennon"... Dari era "Stalin" sampe ke era "Stallone."
Ketika masakan sedang dalam kuali, ada yang pelan pelan "ngintip"
dengan ngilernya... Hanya saja, menurut selera 'pengintip' itu masakan tersebut 'kurang garam' sehingga 'koki'nya
harus diganti... Maka...
B. Zaman PH:
Adalah zaman mengambil alih kuali, lalu menambahkan merica, garam,
jahe dan beberapa lagi rempah rempah pelesat masakan. Karena -sesuai seleranya- masakan tersebut masih terus dianggap
kekurangan rempah, maka untuk melengkapi agar sesuai selera PH lalu "minjam duit" dari "tetangga"...
Ternyata masakan PH sangat enak!... Maka rame rame para "tetangga"
yang meminjamkan duitnya itu ikut pula dengan lahapnya menyantap "makanan"... Tentunya "pesta" tersebut diikuti pula oleh
para "pengurus rumah tangga"...
Maka zaman ini adalah zaman "pesta pora"... Cilakanya "anak anak"
PH sendiri tidak kebagian jatah "masakan" yang cukup. Meskipun hingga diusia tua PH sendiri telah berupaya memakai
'kontrasepsi' dengan program 'KB'... Jumlah "anak anak" terus bertambah, sesuai "tradisi" sebelumnya: Banyak Anak Banyak Rezeki...
!
C. Zaman Habibie, Gus Dur dan Bu Mega:
Karena "anak anak" kagak kebagian "pesta" dan kekurangan gizi, maka
"anak anak" pada ngambek dan PHpun "lengser keprabon". Rupanya pengganti PH, yakni Habibie nongkrong di dalam dapur, disibukin
ngurus piring kotor dengan teknologi mesin cuci (kreditan) sehabis "pesta pora" tadinya...
Belum semua piring bersih tercuci, "masuklah" Gus Dur ke dalam
"dapur" tertatih tatih ditenteng oleh anaknya. Akibat kurang hati-hati, dan masih bercelana pendek bangun pagi tak terus
mandi, dan belum minum kopi secukupnya... Kakinya nyerempet susunan piring sehingga piring piring itu jatuh terpecah berkeping
keping...
Gus Dur berjanji lain kali akan "melihat" dengan hati hati... Apa
boleh buat, "anak anak" belum pada makan... Maka, giliran selanjutnya menjadi "Kepala Rumah Tangga" adalah seorang wanita:
Bu Mega. Mungkin karena selama ini para "Lelaki" tidak begitu "Jantan" sebagai Kepala Rumah Tangga...
Sssttt.... Bu Mega dengan diam diam seribu bahasa, sambil ikut "tradisi"
minjem duit juga sekaligus memunguti "pecahan beling" tersebut dan menjualnya ke pasar loak...
D. Zaman SBY:
Sampailah kita pada zaman "clingak clinguk" habis nggak ada lagi
masakan dan piring untuk makan... Hampir semua pecah dan belingnyapun habis dijual ke pasar loak... Di sudut sempit nan
gelap ruang makan, "anak anak" masih nangis merengek rengek minta makan, sambil mengisap isap tulang belulang bekas pesta
pora tetangga... Atap rumah bocor, selokan meluap dan rumah kebanjiran... Dinding retak karena gempa...
Akh, setidaknya ada "tradisi" yang bisa diteruskan: Minjam duit
dari Tetangga...:)
(Dari Kartun: "Rumah Tangga Kita")
P.S.: Jika ada yang bertanya tentang "soul/jiwa"? Sesuai "tradisi
pinjam meminjam" maka "soul/jiwa" itupun bisa "dipinjam" dari "tetangga"... Pilih aja "tetangga" yang mana, "kiri"
atau "kanan". Tetangga yang pake "sorban" atau yang berpakean "cowboy"... Pake gaya "Stalin" atau stylenya "Stallone"...
Atau jangan jangan "soul/jiwa" juga sudah habis digadaikan atau
malahan terjual di pasar loak?... Akh, itukan juga sudah sesuai "tradisi"?...
Kita telah "MERDEKA" sesuai dengan "TRADISI"... ta'iye?...
May FUN be with you...
Kopitalisme