Kopitalisme

kOPITALISME-IV-A
Home | The Author | Kumaniora | Hole Spirit | KutuKata | Etalase | Das KOPIkenTal | Kitab al-Capuccino | Tafsir al-Gitar | Perpuskataan | F.U.C.K | Buku Tamu | Kopitalisme Toolbar | Partners | Sponsor | Cafeist Prophecies | Hukum Hukum Kopitalisme | PatanYali Factor | Forum Diskusi

HUKUM HUKUM KOPITALISME IV-A

Belajarlah hingga ke Makassar...

Saya mulai bab ini dengan sebuah 'short story' …

"Laws, theories, ideologies are always never enough, simply because people are not static creatures. They are growing, changing, moving..."  I. Amannagappa

(Hukum Hukum Kopitalisme I)

That was the main reason why we used some cafés to observe and to learn about the social life and phenomena at the very basic level in Makassar, South Sulawesi, Indonesia since 1994 to 2003. 

At the end of 1998 we, operated an NGO and became the local government's partner in informing and promoting tolerance and cultural understanding among the local people. A lot of the NGO's initial ideas, plans, meetings and arrangements actually took place in cafés found easily around the city. (One might say this modus operandi is a favorite of NGOs around the world...)

One of our largest programs was an image recovery program called Makassar for Peace initiated by us: The Caféists. Makassar for Peace undersigned by thousands of people, among them professors, businessmen, religious groups, university presidents, students, and general community. The collection of signatures is now in the City Museum.

Pluralisme, Makassar for Peace dan Ketua MUI Sulsel...

Nah, sekarang tentang Pluralisme…

'Pluralisme' TIDAK LEBIH sebagai suatu cara pandang antar manusia pada level inter-personal dalam memahami dan menghormati keragaman dan perbedaan, yang telah menjadi kultur universal karena merupakan konsekwensi logis dari arus frekwuensi bergerak-berpindah manusia dari satu titik ke titik yang lain, dari satu tempat ke tempat yang lain. Yang TELAH terjadi sejak ribuan tahun lalu… 'Pluralisme' adalah hasil PEMBELAJARAN manusia terhadap fenomena arus gerak pindah manusia dari ribuan tahun lalu.  Kalau nggak setuju tinggallah digua gua dan jangan kemana mana:)

Berikut ada dua cuplikan sohibul hikayat:

1.      Pada short story diatas disinggung tentang 'Makassar for Peace' dimana spirit dari text yang terdiri dari 5 butir itu adalah tentang pluralisme, cultural understanding localy-nationaly-globaly dengan menggunakan 'socio-cultural-economy' sebagai koridornya. Jadi tidak menggunakan koridor 'religi', karena telah saya prediksi hanya akan melahirkan betrok kultur atas nama akidah.

Kondisi sosiologis masyarakat lokal-nasional dalam memahami aspek 'religi' guna menghadapi percaturan global inilah melahirkan salah satu PatanYali Factor: Mampukah Indonesia Membangun Ekonomi Berdasarkan Pendekatan Socio-Religio-Cultural di era Globalisasi?… (Ini pula alasan mengapa aku ngambek pada para sosiolog-budayawan yang selama ini ngantuk…)

2.     Lebih dari dua tahun kemudian pada level nasional -melalui Fatwa MUI Pusat-  issu pluralisme BARU mencuat, dengan hiruk pikuk yang luar biasa dahsyat hingga ada kecendrungan untuk saling baku embat…

Apa yang kita tangkap dari kedua kenyataan diatas?

Don’t try this at home…

Pada culikan 1, pluralisme diusung dengan menemu kenali mekanisme komunikasi yang relatively social friendly sambil mengambil jalur samping guna berusaha menghindari bentrok pemahaman: realita universal vs akidah.  Maka issue pluralisme kami usung dengan 'Patanyali Factor' diatas dimana terbukti pada petisi Makassar for Peace di deklare oleh Ibu Apiaty Amin Syam (Istri Gubernur Sulsel) dan Walikota Makassar pada tanggal 3 April 2003 –justru- juga terdapat tanda tangan Ketua MUI Sulsel waktu itu… Prof. Dr. Hamka Haq.

Kami melakukan jalur samping diatas karena apa yang termaktub dalam kitab http://sekspeare.tk tentang 'feeling and standard'. Umumnya bahwa feeling and standard adalah dua faktor yang cendrung disepelekan dalam melakukan sebuah 'enlightenments' apakah itu 'stinky enlightenments' atau 'kentut enlightenments'…   Makanya -seperti saya ulang ulangi dari dahulu- Saya lebih memilih 'Fun Enlightenments'… Democracy plus DemoCreative… Selama kreatifitas dan minum kopi tidak diharamkan… ha..ha..ha!

Jadi, jika anda seorang individu yang kurang berinisiatif, kurang kreatif, berfikir positif, bersiap dengan ilmu bela diri dan bela otak serta  kikir mengeluarkan anggaran pribadi untuk urusan ginian, serta hanya berteori tanpa aksi dan kreasi, pesan saya: Don’t try this at home…

Enter supporting content here

One of the most universal -morning- ritual is to drink coffee:)