Kopitalisme

Kopitalisme I
Home | The Author | Kumaniora | Hole Spirit | KutuKata | Etalase | Das KOPIkenTal | Kitab al-Capuccino | Tafsir al-Gitar | Perpuskataan | F.U.C.K | Buku Tamu | Kopitalisme Toolbar | Partners | Sponsor | Cafeist Prophecies | Hukum Hukum Kopitalisme | PatanYali Factor | Forum Diskusi

"HUKUM HUKUM KOPITALISME"

Akan saya jabarkan dengan apa yang saya sebut dengan 'Teori Kopitalisme':

Laws are always never enough…  

Mengapa "Laws are always never enough?"… Isinkan saya "menyederhanakan" proses lahirnya sebuah hukum (positif)  yang saya coba nalar secara bebas sembari minum kopi:) (Kopitalisme) 

Fenomena (Alam/Lingkungan/Sosial Kemasyarakatan) = = = > Interpretasi = = = > Etika = = = > Hukum.

Ada yang nambahin salah satu fase itu?...Monggo!

Sebagai contoh kasus saya mengambil sampel masyarakat di warkop/cafe 'milis-milis' di Indonesia...

Berapa persen dari miliser yang ngeyel soal agama -bahkan tidak sedikit yang mempertentangkannya- Jumlahnya banyak!  Berapa persen yang gemar politik? Banyak!.. Yang masuk pada substansi masalah ?-meskipun pada level diskusi tok- Jumlahnya, tidak banyak! Berapa persen yang selain diskusi mencoba untuk mensinergikan dengan aksi?… Well you -readers- are the judge!

Dalam mencermati setiap fenomena, maka setiap individu melakukan interpretasi sesuai dengan 'standard' nya masing masing...

Pada fase 'interpretasi' setiap makhluk menyandarkan opini pada : a. Kepentingan. b. Pendidikan.

c. Pengalaman, d. Identitas, status, simbol... 

Nah, mari kita nengok ke dalam realitas model perut sendiri (Inulnesiah... Minjem istilahnya Bung Godam)

Secara 'berjamaah' kondisi pada fase 'interpretasi' sangat mempengaruhi nuansa pada fase 'etika' dan jika kita amati, sebagian besar manusia di Indonesia menyandarkan 'etika' pada 2 buah garis besar frame, yakni frame etika dalam kerangka religius dan etika dalam kerangka bisnis!. Yang dikemas apik amis manis dengan merek "Politis"...

Dengan realitas sedemikian rupa, sehingga pada fase 'etika' sesuai -konsep kopitalisme- saya kategorikan sebagai 'missing link' pembangunan mental dan karakter bangsa kita. Missing link itu terjadi karena 'Inclussive Education' dalam meminimalisir efek negatif sebuah peradaban -based on religious, ecomony, socialism, capitalism, ism-ism- nampaknya tidak ditempatkan dalam fase 'etika' ini…

Dengan demikian apa yang terjadi dalam kehidupan nyata? Setiap masalah jawabannya adalah kalau bukan merah, kuning, ijoh... Politis! Karena semua profesi dan predikat adalah "Hamba sahaya para PoliTikus... "

Jadi...Dan jadilah Hukum Cambuk mencoret – melukis tinta darah diatas punggung reot rakyat kita, hal mana hukum itu diambil dari peradaban 'religius' (Islam) sebagai sebuah produk politis... A way out you might say? Menjadikan peradaban based on religius itu, justru makin jauh dari spirit dan substansinya…

Demokrasi – Demokreatif – Demoterasi...

Saya tetap mempertahankan hipotesis saya bahwa dengan -demokrasi plus demokreatif-  bangkit tidaknya Indonesia, tergantung rakyatnya sendiri... Kenapa?

Pada fase 'etika' merupakan fase yang bersinggungan dengan aspek universal setiap individu maupun lingkungannya... 'Etika' sebuah fase yang tidak hanya terdapat 'missing link' tetapi juga diperburuk dengan fenomena kaum politis-religius dalam menginterpretasikan tantangan jaman...

Artinya peran sosiolog dan budayawan seharusnya mampu masuk pada fase ini. Ketimbang berteori isme isme sambil bermanis manis kapitalis humanis. Mereka -budayawan & sosiolog- seharusnya mampu membangun atau memformat sebuah mindframe guna membentuk ketegaran karakter individual lengkap dengan 'sample' dan 'feetback', yang lalu disodorkan ke tengah tengah masyarakat dan selanjutnya masyarakatlah yang memilih mau tetap menjadi 'lampu lalu lintas' atau berinisiatif melakukan sesuatu yang kreatif-konstruktif-positif-produktif guna kebaikan bersama secara tradisional-nasional-internasional.

Jika ekonom meletakkan harapan perbaikan pada 'legal-political zone'... dan mengharapkan ketulusan hati dan welas kasih para anggota parlemen... Degan kata lain, mengharapkan agar efek negatif kapitalisme di minimalisir oleh -justru- oleh para tikus kapitalis apapun 'logo' mereka di kursi parlemen (minjam istilah Bung Poltak, pengkhianat kapitalis) Maka sandaran berikutnya adalah 'rakyat' itu sendiri sebagai konstituen para anggota parlemen itu... 

Memang pada kenyataannya bahwa 'frame' berfikir manusia Indonesia sangat mudah di terka, dan akhirnya sangat gampang di kotakkan...malah disesuaikan dengan lampu lalu lintas: Merah-Kuning-Ijoh!...Justru inilah tantangan bagi para sosiolog dan budayawan untuk melahirkan manusia nusantara yang cakap dan cekatan dalam mendesain hari depannya sendiri... Dan ini memang adalah tugas SEMUA ORANG yang bisa 'membaca' dan 'berhitung'. Semua orang? Yes! Karena tidak banyak sosiolog dan budayawan kita yang cukup tanggap memasuki 'missing link' tersebut, dalam mengoper tongkat estafet dari fase... Etika = => Hukum = = > Ekonomi = = > People... 

Atau alternatif lainnya adalah kita bisa menjadi masyarakat yang cukup puas dengan terasi... DemoTerasi...

Cukup sementara 'Teori Kopitalisme' disambung lain waktu...

SeksPeare

http://sekspeare.tk

Enter supporting content here

One of the most universal -morning- ritual is to drink coffee:)