WashWatch
Seandainya Dolar Bukan Katrina
Christianto Wibisono PA boleh buat,
kurs dolar AS rupanya bertiwikrama menjadi bencana "Katrina politik". Bila Presiden Bush harus memotong cuti untuk menangani
badai Katrina, maka krisis dolar di Indonesia telah menggoyahkan citra Pemerintah Yudhoyono-Kalla. Kenaikan harga minyak yang
menembus US$ 70 per barel meroketkan kurs dolar hampir Rp 12.000 pada Selasa, 30 Agustus.
Presiden Yudhoyono langsung
mengambil alih "perang melawan kurs" dari Wapres Jusuf Kalla yang harus memangkas kunjungan ke Beijing. Dalam krisis kurs
sekarang ini, faktor eksternal global merupakan determinan yang sulit diamankan secara domestik apa pun langkah nasional yang
diambil oleh Pemerintah RI. Sebab tidak ada Presiden AS, RRT, Raja Abdullah atau Hugo Chavez yang bisa mematok harga migas
supaya turun.
Mekanisme pasar, hukum permintaan dan penawaran berlaku secara optimal. Hanya bila ada satu diktator
mondial yang memproklamasikan harga minyak harus turun kembali jadi US$ 40 per barel dan setiap negara dijatah menurut rasio
PDB, mungkin harga minyak bisa dipaksa turun. Ini tentu mimpi lebih mirip sihir komik Harry Porter.
Kedua, pengembangan
energi alternatif membutuhkan waktu dan modal serta biaya produksi dan harga jualnya tetap lebih mahal ketimbang harga migas.
BBM dari fosil tetap merupakan alternatif termurah dibanding sumber energi lain seperti kincir angin, panas matahari, limbah
agro industri etanol atau nuklir.
Ketiga, masalah kurs mata uang hakikatnya ialah daya beli dan kinerja ekonomi suatu
negara bangsa. Cermin prestasi memproduksi dan menjual barang dan jasa ke pasar global. Suatu bangsa berkinerja unggulan,
berjualan produk laris yang bisa memberi nilai tambah dan laba, otomatis kurs mata uangnya akan menguat atau dipaksa menguat
seperti dalam kasus revaluasi Yuan RRT.
Suatu bangsa memble dalam berproduksi karena digerogoti oleh benalu KKN yang
menimbulkan high cost dan melemahkan daya saing, tidak mampu menjual barang dan jasa di pasar global. Jelas mata uangnya akan
loyo dan tidak ada komando politik yang bisa jadi Viagra untuk memberdayakan kurs yang "impoten" itu.
Bagaimana kalau
menggugah nasionalisme dan patriotisme secara proaktif mirip dulu mbak Tutut beraksi menjual dolar memborong rupiah untuk
menyelamatkan kurs pada 1998? Ini resep paling muluk, tapi sebetulnya juga tidak efektif, karena pada dasarnya umat manusia,
apakah elite atau massa, tidak ada yang betul-betul berwatak altruistis, nasionalis dan patriotis sampai rela berkorban seperti
Yesus mati disalib atau Socrates tidak mau kabur dari penjara dan rela digantung mati.
Semua orang ingin menyelamatkan
harta yang dikumpulkan dengan susah payah untuk pendidikan anak, untuk jaminan kesehatan dan hari tua. Semua orang mau cari
selamat dan tidak bisa dicap tidak patriot kalau elitenya gagal dalam memimpin dan mengelola negara dan bangsa menjadi bangsa
yang berdaya saing.
*
ELITE Indonesia hanya bisa jadi predator terhadap masyarakat awam yang selalu menjadi
mangsa kebijakan partisan, sektarian, primordial, Machiavelis dan munafik. Semua berslogan nasionalis, patriotik dan bahkan
moral atau agama dan mengatasnamakan rakyat yang tertindas dan menderita.
Namun realitanya, birokrat dan politisi
sektarian predator hanya memperkaya diri, menikmati menyalahgunakan fasilitas kekuasaan untuk hidup mewah nikmat megah tujuh
turunan tanpa khawatir anak cucunya jadi melarat kembali.
Empat tahun setelah megateror 911, dunia masih tetap belum
mau menyadari bahwa sistem politik modern rasional yang membuka peluang untuk pergantian rezim secara damai adalah terbaik,
dibanding pola diktator bermotif semulia apapun. Hitler, Mussolini dan Tojo mengubah mesin industri ekonomi Axis menjadi mesin
perang mencoba menguasai dunia.
Fasisme ini akan dihancurkan karena kekejaman Holocaust dan ternyata juga jadi imperialis
yang tidak lebih baik dari kolonialis Eropa yang dikecam fasisme. Diktator proletariat komunisme dibawa Lenin, Stalin dan
Mao Tzedong menelan korban ratusan juta jiwa manusia sebangsa. Jumlah orang Rusia dan Tionghoa yang dibantai oleh rezim komunis
Stalin dan Mao jauh lebih besar dari perang melawan Jerman dan Jepang oleh kedua negara.
Osama bin Laden muncul dengan
bendera Nihilisme-jihadis bertekad meng-Islam-kan seluruh dunia di bawah Kalifah Islam. Dengan menyerang langsung jantung
kapitalisme global, menara kembar WTC di New York dan Pentagon di Washington DC sebagai symbol "setan besar AS" musuh bebuyutan
Kafilah Islam menurut versi OBL.
Banyak orang melarat di seluruh dunia yang belum sempat menikmati kesejahteraan dibawah
elite nasional Dunia Ketiga, turut bersorak sorai dan "puas" karena AS yang arogan dipermalukan pada 11 September 2001. Tidak
pernah terpikir oleh mereka apakah, OBL akan bisa merealisasi janji menciptakan surga dunia Syariah-jihad.
Sebab seluruh
negara Timur Tengah menurut Arab Human Development Report kinerjanya terpuruk dan tidak pernah jadi idaman atau acuan orientasi
pembangunan. Tidak ada guru besar ilmu ekonomi yang merujuk kepada Timur Tengah sebagai model pembangunan.
Pembangunan
jelas tidak mungkin dilakukan dengan teror anarkis dan nihilisme model Taliban, Al Qaeda dan 911. Penghancuran, pembumi-hangusan
dan pemenggalan kepala bahkan serangan teror model 911 boleh saja diteruskan karena memang banyak pengagum fanatis yang rela
jadi syahid nihilis.
Tapi, apakah dengan meneror itu mereka bisa menawarkan wajah masyarakat seperti apa yang akan
mereka bangun. Apakah dunia akan terus diledakkan, dibom, dibantai dan dibakar dalam kerangka perang sabil 911?
Jika
1,2 miliar umat Muslim dunia terbajak oleh Kalifah Osama, maka dunia memang tidak akan mengenal perdamaian dan kesejahteraan.
Bahkan, walaupun pendapatan minyak meluber ke Timur Tengah, harta karun itu bukan dipakai untuk membangun sarana pendidikan,
kesehatan dan sumber daya manusia. Melainkan dipakai untuk me-motivasi barisan bom bunuh diri baru, teroris muda segar yang
menganggur karena tidak punya keahlian, atau justru ahli secara mikro, tehnis dan intelektual.
Tapi, secara moral
merasa punya panggilan untuk menghancurkan dunia yang dianggap di-dominasi oleh kapitalis imperialis setan AS, Barat, Eropa
dan entah siapa lagi yang bukan jihadis.
Miliaran dana hasil migas, menciptakan dinasti elite penguasa Timur Tengah
dengan harta yang tidak akan habis dikonsumsi tujuh turunan dari belasan istri serta keluarga besar puluhan anak cucu. Tapi
rakyat Timur Tengah tidak menikmati kebebasan maupun memiliki nafkah dan harus berimigrasi ke Eropa.
Di sana, yang
menyedihkan, justru sebagian telah membalas air susu tuan rumah dengan air tuba teror seperti bom London oleh WN Inggris keturunan
Pakistan.
Moral dari tragedi mega teror 911, rezeki harta karun migas yang secara tidak langsung justru membiayai
teror dan tidak dimanfaatkan secara positif untuk membangun manusia produktif, memerlukan perenungan yang serius dari elite
Dunia Ketiga termasuk Indonesia*
*
KITA baru saja kehilangan salah satu pemikir besar bangsa Indonesia,
Cak Nur. Saya ingin menyampaikan duka cita kepada Ny Omi Komariah, Nadia, David dan Mikail atas kehilangan suami dan ayah
tersayang. Saya ingin menekankan salah satu kutipan Cak Nur, 30 Maret 2003 di Jawa Pos.
"Dunia akan bertahan asal
adil meskipun bertahan dalam "kekafiran" dan tidak akan bertahan dalam kezaliman meskipun disertai Islam. Ini adalah hukum
yang betul-betul objektif," katanya.
Kepada Presiden Yudhoyono yang sekarang sedang memimpin Operasi Kurs, saya ingin
menegaskan bahwa faktor kepercayaan, trust, social trust, public trust adalah yang paling dominan dalam perang melawan badai
kurs. Rakyat Indonesia terlalu sering dibohongi beberapa presiden.
Bung Karno menggunting uang lewat Gubernur BI Syafrudin
Prawiranegara. Pada 1959 mata uang Rp 10.000 dan Rp 5.000 dihapus nilainya hanya jadi Rp 100 dan Rp 50. Lalu pada 13 Desember
1965 mengubah Rp 1.000 uang lama ditukar jadi Rp 1 uang baru. Inilah yang menjatuhkan Bung Karno pada 11 Maret 1966.
Soeharto
berulang kali melakukan devaluasi walaupun selalu berpidato tidak akan ada devaluasi. Selama 1966-1986 ada 4 kali devaluasi.
Setelah itu Soeharto rupanya ingin jadi pandito dan menginstruksikan Menkeu supaya tidak ada lagi devaluasi. Karena itu yang
ada ialah gebrakan Sumarlin pada Perang Teluk, di mana Bush Sr mengusir Saddam keluar dari Kuwait.
Pada tahun 1997,
Soeharto koppig dan tidak mau melakukan devaluasi kurs dolar AS dari sekitar Rp 2.500 menjadi Rp 5.000. Setelah kedodoran
bulan Januari 1998, ia mengundang Steve Hanke untuk menerapkan CBS dan kurs Rp 5.000 pada Februari 1998.
Tapi, Michael
Camdessus sudah keburu jadi mandor moneter RI dan Soros serta pasar global sudah jenuh dengan Soeharto. Clinton menelepon
Soeharto bolak-balik soal Reformasi politik. Klimaks tragedi 12-14 Mei 1998, dengan elite predator tega membunuhi rakyatnya
sendiri membuat Tuhan bilang: "Stop Soeharto, kamu berhenti 21 Mei 1998."
Tahun 2005 jelas bukan 1998, tapi benang
merah problem global dan tantangan nasionalnya perlu dijawab dengan kenegarawanan yang tulus efektif, memulihkan public and
social trust dan menghentikan kemunafikan predator sekarang juga. *
|