Enter content here

Kopitalisme

Das KOPIkenTAL: "Character Building" What Went Wrong?

Home | The Author | Kumaniora | Hole Spirit | KutuKata | Etalase | Das KOPIkenTal | Kitab al-Capuccino | Tafsir al-Gitar | Perpuskataan | F.U.C.K | Buku Tamu | Kopitalisme Toolbar | Partners | Sponsor | Cafeist Prophecies | Hukum Hukum Kopitalisme | PatanYali Factor | Forum Diskusi

Das KOPIkenTAL: "Character Building" What Went Wrong?

 

Quote:

" Justru inilah tantangan bagi para SOSIOLOG dan BUDAYAWAN untuk melahirkan manusia Nusantara yang cakap dan cekatan dalam mendesain hari depannya sendiri." End of quote. ( I. Amannagappa, "Hukum Hukum Kopitalisme", 12 Juli 2005. )

 

Pembicaraan mengenai "karakter" dalam konteks kebangsaan masih menghias beberapa topik pembicaraan pembesar dan media, serta masih menampakkan bahwa  masalah satu ini hanyalah topik 'gerak jalan ditempat'. No where to go, Quo Vadis.

 

Dan apa yang ada serta kita miliki prihal "karakter" kebangsaan adalah, karakter yang bersifat "What you can TALK, about…" atau "Talk… Talk… Talk…" Dan ketika fase "Talk… Talk… Talk" dalam setiap topic akan memasuki tahap "What you can DO, about…" sebagai "Follow up" dari "Talk… Talk… Talk" tersebut, maka hasilnya NIHIL, NOL BESAR!... Kecuali setumpuk kertas sebagai bahan penelitian ini dan penelitian itu, sebagai bahan seminar ini dan seminar itu. Tetapi intinya tetap sama: Saling mengelus rasa dan bertukar kata. Tentunya 'kredit poin' bagi masing masing peserta dan pembicara.  

 

Penelitian ini dan penelitian itu, seminar ini dan seminar itu, juga memang merupakan konsekwensi logis dari negri "Jamrud Khatulistiwa" yang konon khabarnya banyak sekali orang PINTAR, dengan gelar akademisi yang berderet deret di depan dan di belakang nama mereka Hal mana mereka orang pintar tersebut sebagai 'retailer' dari  'teori teori' akademistik yang dipasarkan sedemikian rupa karena sangat penting sebagai 'komoditi' bagi  'INDUSTRI PENDIDIKAN'.

 

Dan "Industri Pendidikan" tersebut tentu mempunyai target 'pasar' dari kalangan generasi muda Indonesia, tak peduli apa kelak mereka jadi penganggur atau akan jadi apa nantinya. Jika sekalipun kelak nasib mereka "sekelam warna kopi pahit tanpa susu" maka hal tersebut adalah urusan belakang, yang penting mereka terserap menjadi pasar.

 

Slogan slogan "PEMBEBASAN" hanyalah berupa istilah demi "KOMODITI DAGANGAN" dan "KOMODITI POLITIK" belaka. Tak lebih, tak kurang.   

 

Sebuah "karikatur" yang real dan nyata, sehingga membawa saya ke satu titik: LAUGH ABOUT IT!... (That’s why I am here, and that’s why "Kopitalisme" like it or not, is exist.)   

 

Quote 02:

Masyarakat tidak membutuhkan lagi orang pintar. Tetapi masyarakat itu sendiri haruslah CERDAS dalam menentukan nasibnya sendiri. End of quote.

(I. Amannagappa, "Menjelang Tahun Budaya 2006… Budaya Top Down?", 4 Desember 2005)

 

What Went Wrong? Selanjutnya lebih lengkap dibahas pada:

Das KOPIkentAL: Character Building, What Went Wrong dalam "Hukum Hukum Kopitalisme" disertai perbandingan perbandingan 'lapangan' dengan beberapa masyarakat Ex-Yugoslavia secara 'ringan'

 

 

May FUN be with you

 

SeksPeare

http://sekspeare.tk

http://kopitalisme.tk

 

 

 

 

 

 

 

 

One of the most universal -morning- ritual is to drink coffee:)