Enter content here

Kopitalisme

Das KOPIkentAL: Spiritualism, Spirituality dan Takdir
Home | The Author | Kumaniora | Hole Spirit | KutuKata | Etalase | Das KOPIkenTal | Kitab al-Capuccino | Tafsir al-Gitar | Perpuskataan | F.U.C.K | Buku Tamu | Kopitalisme Toolbar | Partners | Sponsor | Cafeist Prophecies | Hukum Hukum Kopitalisme | PatanYali Factor | Forum Diskusi

Das KOPIkenTAL: Spiritualism, Spirituality dan Takdir.

 

Meskipun berasal dari kata yang sama, yakni "spirit" dalam arti dimensi non material, tetapi nampkanya, dalam pembicaraan mengenai "spirituality" dan "spiritualism" terdapat konotasi yang berlainan pada kedua term tersebut. 

 

Spiritualism, nampaknya memiliki konotasi yang cendrung menimbulkan image  'negatif' (bagi mereka yang mengedepankan rasionalistas) karena mengarah kepada hal hal yang berbau mistik, ghaib serta hokus pokus lainnya yang bertentangan dengan rasio. Konotasi ini saya tangkap dari berbagai perbincangan dengan beberapa sumber di luar Indonesia. Tetapi, kita anggap saja bahwa komentar di bawah mewakili pandangan masyarakat yang 'rasional' di Indonesia.

 

Quote:

Saya sejenis mahluk yang tidak bisa menggantungkan diri
kepada hal-hal yang tidak bisa saya cerna dengan rasio saya. Saya tidak
membutuhkan spiritualitas untuk menuntun saya dalam hidup saya. Saya
juga tidak membutuhkan spiritualitas untuk mengembangkan self esteem dan
hubungan baik.

Untuk kesemuanya itu, saya hanya perlu keberadaan saya sendiri, dengan
kelengkapan AKAL, RASA, dll.
End of quote. (Oetomo Susanto, Spiritualis Rasional, 19 Juli 2006)

 

Kalimat diatas, menampakkan bahwa hal hal yang bersifat 'sipritual' bermuara pada ketidak percayaan kepada fase 'isme' (Spiritualism) yang kemudian dikonotasikan terhadap hal hal yang bersifat ghaib, mistik, atau bahkan juga agama (isme)  yang mengarah kepada ideology 'theism'. Sebagai suatu ranah kebenaran mutlak, tentunya  menurut standard "Religious Truth".

 

Lalu, tentang 'Spirituality' ?

 

Quote:

"Love, light, peace is all about FEELINGS and STANDARDS" End of quote (I. Amannagappa)

 

Sebuah ungkapan yang sangat sederhana, bukan?

Dari quote tersebut terdapat kata 'love dan feeling'

 

Ketika kita masuk pada dimensi 'feelings' (demikian halnya tentang 'love') maka kita berada pada ranah 'tak terukur' serta bersifat 'subjektif'. Sementara -sebaliknya- ketika kita berada pada dimensi 'standard' maka kita akan masuk pada ranah yang 'terukur' 'rasional' dan 'objektif'.

 

Lalu, bagaimana dengan orang yang mengaku 'objektif-rasional' tetapi mengaku pula memiliki 'rasa' (feeling?) dimana kita tahu 'rasa/feeling' itu berada pada ranah "NON MATERIAL?" Tidak objektif dan tidak terukur?

 

Hingga disini, kita bisa mencermati bahwa tak seorangpun lepas dari dimensi 'non material' tersebut. Meskipun seseorang itu, adalah seorang Atheist, ilmuwan terkenal di dunia atau PoiTikus kejam nan rakus sekalipun.

 

Tentunya juga aspek 'non material' itu juga mengikat saya, hanya seorang 'cafeist' yang nongkrong di pojokan café dan warkop, dari ujung bumi yang satu ke ujung bumi lainnya, dari sudut kota kumuh ke sudut  angkuh metropolitan. Sambil mentertawai manusia dan kepintarannya, seperti ulah dan kelakuan saya ini.

Di titik inilah "spirituality" saya: Life. Love, Laugh! Yang saya sebut sebagai :The edge of science and civilization.  

 

Selama kita ngalor ngidul di bumi ini, kita tak lepas dan terus terikat pada satu kata: FEELINGS!

 

Lalu, kemudian disinilah dimulainya hiruk pikuk pertentangan pertentangan dari skala keluarga, kelompok, jabatan, pangkat, posisi, duit, harta, agama, idologi dimana semua perbedaan dan pertentangan ini meng"kristal" kepada tiga hal: Institusi, Status, Simbol ==> STANDARDS!

 

Dan kemudian kita sama menyaksikan bahwa "Love, light and peace, is all about feelings and standards" ternyata tidak sesederhana dalam implementasi.

 

Lalu, pertanyaannya kemudian, apakah capaian manusia dan kemanusiaan dalam menata peradabannya selama ini hanya "wasting of time"?

Jawaban atas pertanyaan ini, ada kaitannya dengan quote dibawah:

 

Quote:

" Monggo coba dielaborasi alternatif "spiritualitas tanpa
cause-effect" ini. Nobody jadi tertarik juga dengan kipas-kipasan bung
Seks :)
" End of quote (NoBody Importen)

 

Kenapa tidak, -like others- segalanya hanyalah masalah "paradigma" dan setiap orang punya 'paradigma' sesuai  dengan 'path' nya masing masing… I do have my own 'path' and 'grounding' that I wrote for my own purposes in life.  So far, it works for me dearly since I was 16, tanpa harus mengiktui siklus umum.

 

Komentar/quote dari Sdr. NoBody, diatas saya anggap sebagai kategori pertanyaan tentang "Spiritualism". Sementara saya lebih memusatkan bahasan pada aspek "Spirituality"  Dan untuk itu, saya ingin memulai dengan satu kata: Takdir.

 

Apa tanggapan, pendapat dan opini anda tentang "Takdir"? …

 

(Bersambung, tergantung reply :)

 

May FUN be with you

 

SeksPeare

http://sekspeare.tk

http://kopitaisme.tk

 

Enter content here

Enter content here

Enter supporting content here

One of the most universal -morning- ritual is to drink coffee:)