KEMBALIKAN PADA HAKIKATNYA ( Pendidikan Untuk Peradaban )
Bismillahirrohmanirrohiim
Kepada
pewaris peradaban Yang telah menggoreskan Sebuah catatan kebanggaan Di lembar sejarah manusia
Kata kata tersebut
sudah cukup menggambarkan mahasiswa. Dengan segenggam idealisme yang dimiliki tumbuhlah cita cita suci membangun sebuah peradaban
kehidupan manusia. Usia muda yang energik serta kemerdekaan yang ia miliki membuatnya dapat bergerak leluasa karena tidak
ada kepentingan yang mengikatnya. Yang ada hanya keinginan untuk terus memperbaiki serta membangun bangsa dan tanah airnya. Untuk
membangun sebuah peradaban, mahasiswa memerlukan ilmu pengetahuan dan teknologi. Seperti kata orang tua kita, barang siapa
yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, maka ia lebih berpotensi untuk menguasai dunia. Paparan ini bukan berarti mahasiswa
harus menguasai dunia dalam artian serakah, tetapi mahasiswa harus mampu menjadi social control bagi masyarakat. Dan memang
lebih baik mahasiswa yang menguasai post post tersebut, dari pada post post tersebut dikuasai oleh pribadi egois dan serakah
dengan sederet kepentingan pribadi dan golongan di belakangnya. Maka dari itu, mahasiswa harus bersiap untuk terlahir sebagai
pahlawan yang akan menyelamatkan bangsa dan tanah air dari berbagai bentuk penjajahan. Untuk terlahir sebagai pahlawan, maka
kepekaan adalah syarat mutlak yang harus dimiliki. Mahasiswa harus mau memandang dan menganalisa berbagai permasalahan yang
terjadi. Dengan visi jauh ke depan untuk membangun peradaban, mahasiswapun selalu dituntut untuk beraksi agar menjadi solusi.
Maka tidak ada kata lagi untuk acuh apalagi bungkam. Dan memang sarana pendidikan, termasuk perguruan tinggi pada hakikatnya
dibangun untuk melahirkan para pahlawan bangsa yang siap menjadi generasi pemimpin dan menjadi pemimpin generasi. Sarana pendidikan
ini sudah selayaknya dimanfaatkan dengan se-optimal mungkin yang pada akhirnya akan digunakan untuk membangun peradaban dengan
ilmu pengetahuan dan teknologi. Tidak hanya ilmu pengetahuan dan teknologi yang menjadi bekal para mahasiswa, tetapi juga
nilai nilai keteladanan serta semangat idealisme yang di perlukan. Tanpa hal tersebut, bisa saja mahasiswa menjadi makhluk
penguasa yang sangat serakah dan egois. Tidak pernah memikirkan orang lain dan selalu mementingkan diri sendiri, keluarga,
serta golongannya. Dan bila hal ini terjadi, mahasiswa tak ubahnya seperti sebongkah raga yang tak tahu diri. Namun pada
kenyataanya tidak selalu seideal hakikatnya. Banyak pula mahasiswa yang egois dan bisa jadi pada esok harinya akan menjadi
pemimpin yang menjajah bangsanya. Fenomena ini memang tak terlihat secara kasat mata, tetapi secara halus pola ini mulai menyusup
ke dalam fikiran fikiran mahasiswa. Bila anda tidak percaya, coba tanyakan kepada teman anda ”mengapa anda ingin kuliah
disini ?” jawaban yang sering muncul adalah “agar mudah mendapatkan pekerjaan”, atau ”agar kelak bisa
mendapat gaji yang besar”. Sungguh tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Jawaban jawaban tersebut adalah sangat
wajar ketika itu menjadi tujuan sampingan, bukan tujuan utama. Karena pada hakikatnya pendidikan bukan hanya untuk mencari
makan tetapi lebih jauh lagi adalah untuk membangun sebuah peradaban. Kita semua memang butuh makan untuk hidup, tapi menjadi
catatan penting bahwasanya hidup itu bukan untuk makan. Tetapi bagaimana membuat semuanya menjadi lebih baik. Banyak hal tampaknya
benar, tapi karena pemaknaannya yang salah maka menjadi salah. Ketika orientasi mahasiswa adalah kekayaan, maka akan banyak
aspek yang terlupakan. Kita bisa lihat banyak orang pintar yang akhirnya bekerja di tempat para penjajah, memang penjajahannya
tidak tampak karena mereka hanya menyihir masyarakat untuk menjadi konsumtif. Dan tidak jauh berbeda, begitu juga dengan para
wira usahawan. Jika pendidikan pada akhirnya hanya melahirkan penjajah penjajah bayangan, maka pendidikan hanya membuat
kerusakan saja. Dan bila hal ini terjadi, lebih baik tidak usah ada pendidikan. Dan jika orientasi para mahasiswa masih seperti
itu, lebih baik ia berikan saja kesempatannya pada orang lain yang mampu menjadi teladan dan menginginkan perubahan menuju
perbaikan bangsa. maka dari itu, sudah saatnya bagi kita untuk mengembalikan semuanya pada hakikatnya, yaitu pendidikan untuk
peradaban. Dan dikatakan peradaban jika memang beradab. Karena peradaban adalah buah dari kebudayaan. Kebudayaan bermula
kebiasaan. Kebiasaan berawal dari pemikiran. Pemikiran berasal dari pola fikir. Pola fikir bersumber pada iman dan taqwa.
Dan hal ini yang senantiasa berada di jiwa, hati, dan fikiran para aktivis (pahlawan) masa lalu. Maka wajar bila mereka
sangat reaktif terhadap kedzaliman kedzaliman yang dilakukan oleh pemerintah dan penjajah. Karena memang visi mereka yang
jauh kedepan yaitu, membangun sebuah peradaban. Dan pergerakan kemahasiswaanpun begitu sangat terasa pada masa itu. Dan untuk
itulah hakikatnya BEM bergerak. Maka ikutilah langkah kami ! Sungguh telah habis masa itu, kini saatnya untuk bergerak
tuntaskan perubahan menuju peradaban.
Turut barisan kami Bersama membangun negeri Sambut seruan ini Raih kemenangan
sejati
Salam Mahasiswa ! Wallahu’alam bishowab… Bila ada salah mohon maaf, pada ALLAH mohon ampun…
R
JAKA ARYA PRADANA 113040205 Dirjen Sospol- Deptko Polkum BEM-KBM STT TELKOM 2006-2007
|