Enter content here

Kopitalisme

Kembalikan Pada Hakekatnya
Home | The Author | Kumaniora | Hole Spirit | KutuKata | Etalase | Das KOPIkenTal | Kitab al-Capuccino | Tafsir al-Gitar | Perpuskataan | F.U.C.K | Buku Tamu | Kopitalisme Toolbar | Partners | Sponsor | Cafeist Prophecies | Hukum Hukum Kopitalisme | PatanYali Factor | Forum Diskusi

KEMBALIKAN PADA HAKIKATNYA
( Pendidikan Untuk Peradaban )

Bismillahirrohmanirrohiim

Kepada pewaris peradaban
Yang telah menggoreskan
Sebuah catatan kebanggaan
Di lembar sejarah manusia

Kata kata tersebut sudah cukup menggambarkan mahasiswa. Dengan segenggam idealisme yang dimiliki tumbuhlah cita cita suci membangun sebuah peradaban kehidupan manusia. Usia muda yang energik serta kemerdekaan yang ia miliki membuatnya dapat bergerak leluasa karena tidak ada kepentingan yang mengikatnya. Yang ada hanya keinginan untuk terus memperbaiki serta membangun bangsa dan tanah airnya.
Untuk membangun sebuah peradaban, mahasiswa memerlukan ilmu pengetahuan dan teknologi. Seperti kata orang tua kita, barang siapa yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, maka ia lebih berpotensi untuk menguasai dunia. Paparan ini bukan berarti mahasiswa harus menguasai dunia dalam artian serakah, tetapi mahasiswa harus mampu menjadi social control bagi masyarakat. Dan memang lebih baik mahasiswa yang menguasai post post tersebut, dari pada post post tersebut dikuasai oleh pribadi egois dan serakah dengan sederet kepentingan pribadi dan golongan di belakangnya.
Maka dari itu, mahasiswa harus bersiap untuk terlahir sebagai pahlawan yang akan menyelamatkan bangsa dan tanah air dari berbagai bentuk penjajahan. Untuk terlahir sebagai pahlawan, maka kepekaan adalah syarat mutlak yang harus dimiliki. Mahasiswa harus mau memandang dan menganalisa berbagai permasalahan yang terjadi. Dengan visi jauh ke depan untuk membangun peradaban, mahasiswapun selalu dituntut untuk beraksi agar menjadi solusi. Maka tidak ada kata lagi untuk acuh apalagi bungkam.
Dan memang sarana pendidikan, termasuk perguruan tinggi pada hakikatnya dibangun untuk melahirkan para pahlawan bangsa yang siap menjadi generasi pemimpin dan menjadi pemimpin generasi. Sarana pendidikan ini sudah selayaknya dimanfaatkan dengan se-optimal mungkin yang pada akhirnya akan digunakan untuk membangun peradaban dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Tidak hanya ilmu pengetahuan dan teknologi yang menjadi bekal para mahasiswa, tetapi juga nilai nilai keteladanan serta semangat idealisme yang di perlukan. Tanpa hal tersebut, bisa saja mahasiswa menjadi makhluk penguasa yang sangat serakah dan egois. Tidak pernah memikirkan orang lain dan selalu mementingkan diri sendiri, keluarga, serta golongannya. Dan bila hal ini terjadi, mahasiswa tak ubahnya seperti sebongkah raga yang tak tahu diri.
Namun pada kenyataanya tidak selalu seideal hakikatnya. Banyak pula mahasiswa yang egois dan bisa jadi pada esok harinya akan menjadi pemimpin yang menjajah bangsanya. Fenomena ini memang tak terlihat secara kasat mata, tetapi secara halus pola ini mulai menyusup ke dalam fikiran fikiran mahasiswa. Bila anda tidak percaya, coba tanyakan kepada teman anda ”mengapa anda ingin kuliah disini ?” jawaban yang sering muncul adalah “agar mudah mendapatkan pekerjaan”, atau ”agar kelak bisa mendapat gaji yang besar”. Sungguh tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Jawaban jawaban tersebut adalah sangat wajar ketika itu menjadi tujuan sampingan, bukan tujuan utama. Karena pada hakikatnya pendidikan bukan hanya untuk mencari makan tetapi lebih jauh lagi adalah untuk membangun sebuah peradaban.
Kita semua memang butuh makan untuk hidup, tapi menjadi catatan penting bahwasanya hidup itu bukan untuk makan. Tetapi bagaimana membuat semuanya menjadi lebih baik. Banyak hal tampaknya benar, tapi karena pemaknaannya yang salah maka menjadi salah. Ketika orientasi mahasiswa adalah kekayaan, maka akan banyak aspek yang terlupakan. Kita bisa lihat banyak orang pintar yang akhirnya bekerja di tempat para penjajah, memang penjajahannya tidak tampak karena mereka hanya menyihir masyarakat untuk menjadi konsumtif. Dan tidak jauh berbeda, begitu juga dengan para wira usahawan.
Jika pendidikan pada akhirnya hanya melahirkan penjajah penjajah bayangan, maka pendidikan hanya membuat kerusakan saja. Dan bila hal ini terjadi, lebih baik tidak usah ada pendidikan. Dan jika orientasi para mahasiswa masih seperti itu, lebih baik ia berikan saja kesempatannya pada orang lain yang mampu menjadi teladan dan menginginkan perubahan menuju perbaikan bangsa. maka dari itu, sudah saatnya bagi kita untuk mengembalikan semuanya pada hakikatnya, yaitu pendidikan untuk peradaban. Dan dikatakan peradaban jika memang beradab.
Karena peradaban adalah buah dari kebudayaan. Kebudayaan bermula kebiasaan. Kebiasaan berawal dari pemikiran. Pemikiran berasal dari pola fikir. Pola fikir bersumber pada iman dan taqwa.
Dan hal ini yang senantiasa berada di jiwa, hati, dan fikiran para aktivis (pahlawan) masa lalu. Maka wajar bila mereka sangat reaktif terhadap kedzaliman kedzaliman yang dilakukan oleh pemerintah dan penjajah. Karena memang visi mereka yang jauh kedepan yaitu, membangun sebuah peradaban. Dan pergerakan kemahasiswaanpun begitu sangat terasa pada masa itu. Dan untuk itulah hakikatnya BEM bergerak. Maka ikutilah langkah kami !
Sungguh telah habis masa itu, kini saatnya untuk bergerak tuntaskan perubahan menuju peradaban.

Turut barisan kami
Bersama membangun negeri
Sambut seruan ini
Raih kemenangan sejati

Salam Mahasiswa !
Wallahu’alam bishowab…
Bila ada salah mohon maaf, pada ALLAH mohon ampun…


R JAKA ARYA PRADANA
113040205
Dirjen Sospol- Deptko Polkum
BEM-KBM STT TELKOM 2006-2007

One of the most universal -morning- ritual is to drink coffee:)