Enter content here

Kopitalisme

DAS KOPIkenTAL: Tata Cara Mentertawakan Diri
Home | The Author | Kumaniora | Hole Spirit | KutuKata | Etalase | Das KOPIkenTal | Kitab al-Capuccino | Tafsir al-Gitar | Perpuskataan | F.U.C.K | Buku Tamu | Kopitalisme Toolbar | Partners | Sponsor | Cafeist Prophecies | Hukum Hukum Kopitalisme | PatanYali Factor | Forum Diskusi

Das KOPIkenTAL: Tata Cara Mentertawakan Diri

 

Quote 01:

Saya fikir Indonesia harus berani untuk MENTERTAWAKAN DIRINYA sebagai sebuah BANGSA. Agar -setidaknya- ada sedikit enersi untuk bangkit melawan ketertinggalan./End of quote.

Oleh: SeksPeare,  1 Juli 2005, thread:  "Apakabar Dimata Seorang Cafeist"

 

Quote 02:

Bangsa ini benar2 berani menertawakan bangsanya sendiri. Termasuk menginjak2 bendera atau membakar bendera merah putih (jika perlu)./End of quote.

Oleh: Pemerhati Bangsa, 24 Agustus 2006, thread:  "Apakah Kita Sudah Merdeka?"

 

Quote 03:

Bangsa ini harus berani menertawakan dirinya sendiri, alias bisa tahan dikritik. Bangsa amburadul gini kok sensi dikritik./End of quote.

Oleh: Republik BBM, Effendy Gozali, (Sent by PB) 24 Agustus 2006.

 

Quote 04:

Mungkin mudah bagi kalian untuk mentertawakan tempurung orang lain (baca: agama lain) -- tetapi bagaimana dengan tempurung kalian sendiri? Yg terakhir ini malah jauh lebih penting bagi kesehatan jiwa (dunia - akhirat malah!) anda masing2./End of quote.

Oleh: B@b, 24 Agustus 2006, "Urusan Katak Dalam Tempurung"

 

 

Kopitalisme:

Mentertawai orang lain, kelompok lain, agama lain, budaya lain, bangsa lain adalah sudah mendarah daging dalam jiwa masyarakat, baik online maupun offline.

 

Melalui beberapa mailing list, dalam sejumlah postingan, "Kopitalisme" mencoba untuk 'me-reparasi' semacam "korslet mental" yang telah lama diderita oleh -umumnya- komunitas bangsa(T) IndoneSia(L), tak terkecuali kepada mereka yang 'mahir sihir menyihir' tukarkata secara 'Akade… MISTIK!!!'.   

 

Secara 'online' para anggota CIAs (Cafeist Intelligent Agents) mendapatkan data sebanyak 122 pesan email, yang intinya terdiri dari kata 'mentertawakan' dan kata 'diri'. Terdiri dari dua kata dan bukan satu kalimat.  Sedangkan kedua kata tersebut yang tergabung menjadi kalimat "mentertawakan diri" jumlahnya sangat minim.

 

Sementara untuk pesan email yang intinya 'mentertawakan diri' menjadi satu kalimat, terdapat 'pioneer' yakni pesan awal, yang ditulis oleh 'Gebrak Nusantara' lebih dari setahun yang lalu, pada kalimat sebagai berikut:

 

" Anda nanya kan? Aku milih apa? Aku milih "mentertawakan" diri, mentertawakan "kepintaran" orang "pintar" dan mentertawakan "peradaban" ini..." (Ini sesungguhnya adalah 'spirit' yang junjung tinggi, ditawarkan dan diedarkan oleh 'Kopitalisme')

 

Tanggapan "Gebrak Nusantara" diatas adalah kepada 'mendiang' Mustikawati, dalam thread "Viruz Tikuz Menikuz" di Apakabar, hari Jum'at 20 May 2005.

 

======================================================

Kopitalisme:

"Kopitalisme" adalah sebuah  cara pandang atau perspektif -

sedemikian rupa sehingga-  dimana segala sesuatu adalah

"Karikatur".  Baik pada level "SOSIOLOGIS-POLITIS" maupun masuk pada

level  "MIND and MENTAL" seseorang. 

Semuanya –TANPA AMPUN- adalah "KARTUN" dan "KARIKATUR"!

(Halaman: DAS KOPIkenTAL)

===================================================

 

Apa maksud dari 'mentertawakan diri'?...

 

" Kekusutan itu terdapat dalam 'mindset' bangsa kita" Demikian Val Helsing.

 

Penertawaan diri akan banyak kegunaannya, salah satu dan yang terpenting adalah untuk 'Introspeksi' apakah pada level Individual maupun Institusional. Pada level individual akan sangat bermanfaat untuk mengurai kekusutan mindset yang dimaksud oleh brother Helsing.

 

Pada tulisan dari Ms. Lianny Hendranatta, seorang Psikolog berjudul 'T.R.A.P.' yang merupakan singkatan dari 'Tradisi, Ritual, Atribut, Predikat' juga secara tersirat mendukung statement Bro Helsing diatas. 

 

Demikian pula dalam  'Kopitalisme' terdapat sebuah 'Sabda' yang berkonotasi untuk menyindir tentang halnya 'tradisi' - 'ritual', yakni:

"One of the most universal (morning) ritual, is to drink coffee…"

 

'Sabda' tersebut, secara spontan dilontarkan ketika menjawab pertanyaan "What can unite us?" oleh salah seorang rekan aktifis kemanusiaan dan kesetaraan gender dari Canada, ketika sedang ngobrol di sebuah café di Pulau Vis, Croatia. Dan saya tambahkan, bahwa dengan berfikir untuk meng-unite kelompok kelompok manusia cendrung kita tergelincir kepada pembentukan 'isme-isme' yang selama ini  sangat jelas telah mengkotak kotakkan ummat manusia. Dan pada gilirannya tinggal menunggu waktu seorang 'PoliTikus' akan memanfaatkan hasil olah pikir tersebut dan menjadikannya sebagai 'alasan perjuangan' dalam bentuk 'Ideologi'. Padahal yang mereka -PoliTikus- itu pikirkan adalah kepuasan, keuntungan dan lubang kantong mereka sendiri.  

 

Statement saya itu telah dicontohkan -with all respect- oleh 'keteledoran' Karl Heinrich Marx (1818 – 1883) sendiri, dengan -hanya- mengatakan bahwa 'Agama adalah Opium'! Itu tak lebih dari sebuah statement 'parsial' karena lupa 'memagar' hasil olah pikirnya dengan menyatakan bahwa 'Ideologi-lah yang Opium', sehingga 34 tahun setelah meninggal, olah pikirnya itu lalu 'ditunggangi' secara politis, sebagai 'Ideologi perjuangan' oleh Lenin.

 

Demikianlah, kita belajar dari masa lalu, mengambil yang baik membuang yang buruk, untuk melangkah dan menatap lurus kemasa depan. Untuk itu, mari mentertawakan diri sendiri…

 

Berbagai jenis 'ritual' penertawaan diri, Sebaiknya dimulai dari level 'MIND & MENTAL' diri sendiri dahulu (dalam hati saja sudah lumayan kok) lalu jika bisa, secara bersamaan -paralel- dengan mentertawakan diri sebagai suatu entitas 'AKADEMIK' -  'ETNIK' - 'PROFESI' - RELIGI & ISME ISME'  hingga pada level 'BANGSA' Sesuai dengan 'Sunnah' Kopitalisme: Ideologi Adalah Opium.

   

 

'Kopitalisme' sendiri adalah sebuah 'paronomasia' yang berkonotasi  untuk 'mengejek' ancient terms tentang 'isme isme', dan sempat mendapatkan beberapa 'ekor' kelinci percobaan di milis milis. Dan terlihat betapa 'mind' dan 'mental' mereka sedemikian TERPENJARA dan TERPERANGKAP oleh 'dunia' mereka sendiri, 'ritual' mereka sendiri, termasuk 'ritual' dalam bentuk 'seminar'… Talk.. Talk… Talk… Intellectual exercise… dll..   

 

Quote:

Setiap 'pihak' telah melakukan perannya, baik atau buruk torehan sejarah itu adalah 'buku' yang perlu kita baca, namun bukan untuk sekedar berfantasi nostalgia. Proses 'membaca' -menurut standard saya- adalah melepaskan diri dari isme-isme dahulu, jika perlu 'mentertawakannya' ('penertawaan isme-sime'  saya lakukan dengan ratusan tulisan terhimpun dalam kumpulan satire 'PQ'). End of quote.

Oleh: SeksPeare, tanggapan terhadap Sang, pada thread "Apa Yang Kurang Dari Bangsa Sebesar Indonesia? Part II. JUM'AT 15 April 2005.

 

Mentertawakan diri sebagai sebuah entitas etnik, dianjurkan membaca Puisi Sang "Burung Merak" Rendra, berjudul "Megatruh".  

 

Sedangkan yang based on religion, silakan baca "Internet Itu Agamanya Mang Ucup", tulisan dari Mang Ucup.

 

Selanjutnya mari kita tunggu secara berjamaah tulisan tulisan serupa dari entitas etnik dan agama lainnya…  

 

Anjuran "Mentertawakan Diri" sebagai sebuah "Bangsa"

Quote: "Well, saya menganggap bahwa sebagaian besar orang yang saya kenal sangat kaku dalam memandang falsafah hidup, dan jarang sekali ada yang mau sebentar saja untuk mentertawai diri sendiri… Saya fikir Indonesia harus berani untuk MENTERTAWAKAN DIRINYA sebagai sebuah BANGSA. Agar -setidaknya- ada sedikit enersi untuk bangkit melawan ketertinggalan. Mentertawakan diri adalah terapi yang mujarab, sepanjang pengalaman saya dalam mengatasi segala macam persoalan pribadi. Apakah itu bisa diterapkan dalam sebuah komunitas… Well, saya coba melalui sebuah forum milis namanya Apakabar"/End of quote.

Oleh: SeksPeare, dalam thread "Apakabar, dimata seorang Cafeist" Jum'at 1 Juli 2005…

 

Bisa juga "mentertawakan diri sebagai bangsa" dengan mengikuti " 5 Commandements Bagi Indonesia Mengelola Globalisasi" pada halaman pertama situs "Kopitalisme". http://kopitalisme.tk

 

Mentertawakan diri sebagai suatu "Ritual Jum'atan"…

Untuk itu, sekarang perhatikan semua pesan diatas sejak lebih dari setahun yang lalu:

 

- JUM'AT, 15 April 2005: Apa Yang Kurang Dari Bangsa Sebesar Indonesia? Part II.

- JUM'AT, 20 May 2005: Viruz Tikuz Menikuz.

- JUM'AT, 01  Juli 2005: Apakabar Dimata Seorang Cafeist.

 

Dan lebih setahun kemudian pada hari ini:

- JUM'AT, 25 Agustus 2006: DAS KOPIkenTAL: Tata Cara Mentertawakan Diri.

 

Sekarang sanggupkah rekan saudara sebangsa dan se-cyber dan tanah air -setiap selesai  "JUM'ATAN"- lalu ke warkop terdekat, untuk mentertawakan diri masing masing? Tidak usah secara berjamaah, dalam hati aja... Kok!

May FUN be with you…

 

Kopitalisme

http://kopitalisme.tk

 

 

Enter content here

Enter content here

Enter supporting content here

One of the most universal -morning- ritual is to drink coffee:)