DAS KOPkenTAL: Lets Dance In Style…
"Surah" DAS KOPIkenTAL kali ini akan menguraikan beberapa statement,
kutipan dari beberapa tanggapan rekan rekan yang terlibat dalam diskusi dengan
"Kopitalisme".
Sedangkan judulnya "Let's Dance in Style…" akan diketengahkan diakhir 'surah'
ini…
Sebelumnya ada beberapa hal yang ingin saya ketengahkan, antara lain:
PERTAMA:
"KOPITALISME" bukan "THEORY" apalagi sebuah "AJARAN"
KEDUA:
"OBJEKTIFITAS" vs "SUBJEKTIFITAS"?
KETIGA:
"There is NOTHING such a The End of Science"
KEEMPAT:
All "THEORY and KNOWLEDGE" is a "COMMODITY"
==================
Ayat 01: "KOPITALISME" bukan "THEORY" apalagi sebuah "AJARAN"
Quote01: Tulisan saya jauh lebih ngaco tatabahasanya
dibandingkan tulisan bung Kopitalisme. Hanya bedanya saya sudah
punya
pengikut yang tugasnya menulis ulang ide-ide dan pendapat saya
disesuaikan
dengan tatabahasa pembaca. Sayangnya bung Kopitalisme
belum merekrut pengikut.End of quote. By Vincent Liong, FPK, 6
September
2006.
Kopitalisme:
"Kopitalisme" BUKAN 'theori' dan juga BUKAN sebuah 'Ajaran' yang memerlukan
'pengikut' atau 'murid'. Tetapi berupa sebuah "Perspektif Alternatif" bagaimana
melihat dan mensikapi fenomena social (Untuk Kepentingan Diri) dengan
menganggap segala sesuatu adalah "Karikatur". (Ada
yang menyebutnya
sebagai "A Game of God")
Berikut, adalah cuplikan 'japrian' saya kepada 'Mustika' dan 'Indosepherd' sekitar
8 bulan lalu. Ketika sedang berdiskusi dalam thread yang saya buka berjudul
"Keluguan Seorang Scientist" Sebuah 'sindiran' buat 'Indosepherd'. Tertanggal 26
Desember 2005, sbb:
Ouote02: Bagi saya pribadi, saya mengerti 'substansi' argumentasi
gencar Bu
Mus, dan juga anda Indosepherd menghadapi kaum dogmatisme
religious.
Mengenai gaya
bahasa saya dalam forum, memang itulah 'trade mark'-nya
SeksPeare dengan Kopitalisme-nya... Dan akan demikian seterusnya...
Quote 03: Saya BUKAN umat yang 'percaya' Tuhan seperti
deskripsi tentang
'Tuhan' menurut agama agama main stream... In fact
i wrote my own faith for my
own needs. ... (We are 'The Creative Truth')
Kopitalisme:
Adapun tentang faith/keyakinan/intuisi (yang saya catat
tersendiri) adalah untuk kepentingan diri pribadi (Tercermin dalam 'puisi' "Agama"-ku Adalah "Kentut"-ku), jadi tidak untuk
disebarkan apalagi merekrut 'pengikut' atau 'murid' (Apalagi jika mengambil/memungut dana)
'Faith/keyakinan/intuisi' tersebut hanya sebagai 'alat'
dalam menyusun 'strategi dan rencana hidup' yang telah saya aplikasikan sendiri sejak SMP.
Sebagai "contoh" bahwa Kopitalisme bukan sebagai suatu
'ajaran' dapat disimak dalam sebuah jawaban dari "Kopitalisme" pada thread "Untuk Apa Manusia Diciptakan?"
Quote 04:
Pertanyaan: Karena pertanyaan ini seperti bertanya
kepada Tuhan, mengapa Engkau menciptakan kami? Untuk apa semua ini?
Secara filosofis, pertanyaan ini sangat sukar untuk
dijawab. Dan saya hanya mampu untuk mengatakan: Hanya Tuhan yang mengetahui jawabannya secara pasti. Kita hanya mampu untuk
menduga-duga saja.
Tanggapan "Kopitalisme":
"Anda betul!... Karena menjawab pertanyaan yang mengandung
kata "Diciptakan"...
Setiap jawaban, mengandung kebenaran yang tergantung
pada 'alas kaki' masing masing...
'Alas kaki' yang saya maksud disini adalah lokasi
atau tempat dimana anda berpijak... (Akan mempengaruhi cara bekerja fikiran meskipun hanya dalam melontarkan pertanyaan)
Jawaban anda 'benar' jika dilihat dari sudut pandang
dimana anda 'berdiri'... Yakni di Indonesia (L). Dimana mayoritas penduduknya ber-kultur "theistic". Sehingga pertanyaannya memakai
kata "Diciptakan"... End of quote.
Kopitalisme:
Jelas diatas, bahwa "Kopitalisme" memberi tanggapan
bukan berdasarkan 'faith' – 'keyakinan' tertentu. Tidak ada kata menurut, Jesus, Muhammad, Siddharta, dll.
Tetapi memberi perspektif berdasarkan 'alas kaki' si
penanya, karena yang dibicarakan adalah hal yang bersifat 'subjektif'.
Jadi, jika "Kopitalisme" tidak ada teori-teorian, tidak
ada ajaran-ajaran, lalu apa?
Kopitalisme adalah -sekali lagi- Everything is nothing
but a caricature!
Dan hamper disetiap penutup tulisan ada pesan khas
"May FUN be with you". Artinya, jikalaupun anda harus berfikir setelah membaca tulisan "Kopitalisme", semoga anda berfikir
secara "Fun".
Tentunya dalam membaca dibutuhkan kadar atau kapasitas
'imajinasi' tertentu, untuk mentela'ah atau sekedar menimatinya.
Ada yang mempunyai kapasitas imajinasi disertai olah fikir diatas rata
rata, maka akan 'terhibur' untuk memahami hal hal yang sifatnya 'substantive' dari pesan tersurat maupun tersirat.
Tetapi ada juga yang mempunyai kapasitas imajinasi
yang 'ala kadarnya' maka dia akan 'terhibur' oleh hal hal yang 'dangkal'. Contohnya yang terhibur dengan 'objek' yang dangkal
tersebut, adalah:
Quote05: WAHAHAHAAAA. ...
Pak/Bu Maneke Budiman,
saya ketawa ngakak baca postingan dr si tukang jualan kopi (bagian bawah) yg mencoba membedah setiap argumen saya End of quote.
By Larasati.
Kopitalisme:
Dapat dilihat pada "quote 05", tujuan "utama" dari
"Kopitalisme" dalam aspek "Fun" telah tercapai (Si Objek, ngakak!:) "Objek" dari tertawaan tersebut adalah 'objek' 'karikatur
berupa "cheerleader memakai rok mini" (Manneke Budiman)
Artinya si pemilik "kakakan" (boleh dibilang gitu nggak
ya? Dari aspek tata bahasa?) tidak mempunyai kapasitas imajinasi untuk melakukan pemikiran kreatif atas argumennya yang 'keok'.
Hanya sekedar terhibur karena kehadiran "karikatur" tersebut…
========================
Ayat 02: Objektifitas vs Subjektifitas?
'Objektivitas' adalah nature dari 'otak kiri' sedangkan 'Subjektifitas' adalah nature
dari 'otak kanan'.
Kita hidup dalam 'pergulatan' kedua dimensi ini, 'objektifitas' dan 'subjektifitas'.
Pergulatan tersebut mencakup kesegala aspek kehidupan manusia dan
peradaban yang tersusun dari waktu ke waktu.
Dalam prosesnya, kita melakukan kegiatan kegiatan yang sifatnya
'memutuskan', 'to decide' segala sesuatu juga
tak lepas dari 'pergulatan' kedua
dimensi tersebut, baik di bidang politik, ekonomi, social, budaya, pendidikan, dll.
Setiap orang menggunakan 'otak kanan' kedua fungsi otaknya -umumnya- secara
-cendrung- tak sadar, dalam keadaan tertentu dalam bidang tertentu. Apakah
dalam menilai atau menanggapi acara di televisi, menonton artis diwawancarai,
orang sedang ngobrol di taman, menanggapi ekspressi kawan atau kekasih, dll.
Tentunya 'penilaian' dalam konteks ini bersifat 'subjektif' dari kaca mata si 'penilai'
saja.
Terdapat pula orang yang menggunakan fungsi porsi 'otak kanannya' sebagai
sebuah 'economic activity' seperti penulis lagu, penyanyi, penyair, pokoknya
seniman bahkan dukun. Artinya, kemampuan aktivasi 'otak
kanan' juga bisa
dijadikan komoditi 'nyari duit'. Dan seorang
yang 'dikuasai' oleh fungsi otak kanan
ciri-ciri umumnya adalah orang tersebut cendrung 'nyentrik'.
Saya termasuk orang yang mampu mengaktifkan kedua fungsi otak kiri dan
kanan bahkan dalam situasi 'ekstrim'. Fungsi otak kanan dalam mencipta 'kata',
mencipta lagu, melukis, menyanyi, mencipta lapangan kerja, mencipta proyek,
atau ketika sedang menghadapi situasi 'ekstrim' disaat mencoba untuk bertahan
hidup pada level kemiskinan, mengatasi potensi konflik, atau ketika sebuah pistol
milik Kapt. Arl, nempel dijidat saya, disaksikan puluhan orang di sebuah warung
kopi, Jl. Pongtiku, Makassar.
Aktifasi 'otak kanan' sifatnya 'intuitive' dan tergantung
dari kekuatan atau
kelemahan mental seseorang. Dalam 'porsi' tertentu, umumnya bagi mereka yang
berada dalam lingkup mental 'religious truth', intuisinya bertransformasi kedimensi
'keimanan' atau 'faith'. Jika mentalnya 'suggestible' maka mereka akan menjadi
'pengikut' sedangkan jika orang itu 'suggestive' maka orang tersebut berpotensi
menjadi pembuat 'sekte' 'aliran' atau 'mashab'.
Sebagian besar orang di Indonesia mengambil 'jalan pintas' yakni aktivasi otak
kirinya terfungsikan sebagai 'pengikut' dibidang pekerjaan maupun keilmuan, yang
kemudian membentuk karakter pemiliknya sebagai 'mental pekerja', sedangkan
otak kanannya terfungsikan kedimensi 'faith' dan resultnya adalah sebagai
'pengikut' agama/ajaran.
'Kopitalisme' hanya melihat fenomena itu tak lebih sebagai sebuah "Etalase".
Perspektif ini terekam sejak masih berada di Indonesia.
Dengan sebuah
pertanyaan: Apa yang hendak ditawarkan oleh komunitas demikian itu sebagai
sebuah 'kontribusi' kepada dunia?
Dan jawaban dari pertanyaan itulah bermunculan berbagai humor, diantaranya "5
Commandements, Bagaimana Indonesia
mengelola Globalisasi." (Produk otak
kanan)
Pergulatan 'objektifitas vs subjektifitas' semakin kental dengan kondisi mental
komunitas yang demikian itu, dan sangat gampang dicermati ketika mencoba
mengurai hal hal yang sifatnya 'subjektif' (Contohnya: Tuhan) ke ranah 'objektif'.
Akan terlihat bagaimana orang 'theistik' saling mengemukakan pendapat masing
masing yang tak lain adalah interpretasinya sendiri.
Karena segala sesuatu –KITAB SUCI dan TUHAN sekalipun- TUNDUK ATAS
INTERPRETASI MANUSIA!
Sedangkan: The most universal -morning- ritual is to drink coffee.
Siapapun yang mau mengolah 'perspektif' ini secara 'objektif' maupun 'subjektif'
tetap akan merupakan sebuah 'realitas'…he..he..he…
Tentang Judul: Let's Dance In Style...
Bagi rekan yang ingin agar Kopitalisme ditulis dengan menggunakan tata
bahasa baku, maka hal tersebut akan keluar dari 'state of art'
yang merupakan
landasan penulisan ini.
Dalam kenyataan, memang terdapat tingkat dan kadar imajinasi yang berbeda
dari para pembaca. Tidak sedikit yang mempunyai tingkat imajinasi yang diatas
rata-rata, berjiwa besar dan open minded, cendrung terhibur, fun, menyukai
dan
mampu mentela'ah substansi dengan style penulisan Kopitalisme. Mereka bisa
diakses ke halaman F.U.C.K.
Sehingga dari itu, jika ada pembaca yang sekiranya mempunyai kemampuan
imajinasi terbatas, kami telah memperingatkan pada halaman depan. Agar pihak
pihak yang mendapatkan manfa'at dari style penulisan kami tetap bisa menikmati
dan fun... Maka dari itu Kopitalisme 'bersabda': Let's
Dance In Style...
(Bersambung)
May FUN be with you…
Kopitalisme
http://kopitalisme.tk