Enter content here

Kopitalisme

Kebenaran Itu Paradoks
Home | The Author | Kumaniora | Hole Spirit | KutuKata | Etalase | Das KOPIkenTal | Kitab al-Capuccino | Tafsir al-Gitar | Perpuskataan | F.U.C.K | Buku Tamu | Kopitalisme Toolbar | Partners | Sponsor | Cafeist Prophecies | Hukum Hukum Kopitalisme | PatanYali Factor | Forum Diskusi

Realitas ini akan mengejutkan manusia modern, karena kita terbiasa
hidup dalam kebenaran tunggal. Hidup dalam paradigma menang-kalah.
Yang menang adalah yang lebih banyak, lebih kuat, lebih kaya, lebih
pandai berartikulasi. Siapa menang akan benar. Yang kalah itu tidak
benar.

Hidup ini adu kekuatan, perang. Dan perang membutuhkan konflik. Dan
konflik adalah perbedaan-perbedaan . Di mana tumbuh perbedaan-
perbedaan, maka di situ muncul konflik. Setiap perbedaan mengklaim
dirinya benar. Dan karena setiap kebenaran itu ingin hidup dan
berkembang, sebagai hak asasi, maka yang terjadi adalah perang-
kebenaran. Kebenaran yang lebih kuat akan menggencet dan
menyingkirkan kebenaran yang kalah. Itulah cara berpikir kita
sekarang ini.

Perbedaan adalah pluralisme, suatu bhinneka. Pluralisme adalah
kodrat, alamiah, di luar kuasa manusia. Lihatlah langit, ada
matahari, bulan, dan aneka ragam bintang-bintang. Lihatlah alam
dunia ini, ada gunung dan dataran rendah, ada daratan ada hutan, ada
hulu dan ada hilir, ada siang dan ada malam.

Pluralisme juga ada dalam kebudayaan manusia. Cara berpikir orang-
orang di kutub berbeda dengan cara berpikir orang-orang di
khatulistiwa. Cara berpikir orang padang rumput berbeda dengan cara
berpikir (dan cara hidup) orang rimba raya. Cara berpikir alam dua
musim berbeda dengan yang empat musim. Cara berpikir orang dagang
berbeda dengan cara berpikir orang tani. Kebenaran kaum pemburu
berseberangan dengan kebenaran kaum tani.

Sejarah perang kebenaran

Pluralitas adalah realitas yang tidak dapat direduksi menjadi
kebenaran tunggal. Sejarah penderitaan manusia adalah sejarah perang
kebenaran untuk menduduki tempatnya yang tunggal di dunia ini. Dan
tidak pernah tercapai. Tampaknya sudah tercapai, tetapi umurnya
tidak panjang, karena realitas itu kebhinnekaan.

Namun, manusia tidak pernah belajar dari sejarah dirinya sendiri.
Konflik kebenaran tetap dilanjutkan dengan perang kebenaran. Manusia
itu musuh bagi sesamanya. Dan musuh itu harus dilenyapkan karena
merupakan gangguan dan ancaman bagi dirinya. Manusia ingin hidup
dengan kebenarannya sendiri sambil menafikan kebenaran yang lain.
Seandainya ini pun terjadi, maka kebenaran tunggalnya itu pun lambat
laun akan menumbuhkan dirinya dalam kebenaran plural. Sejarah
manusia telah membuktikan hal ini berkali-kali.

Mengapa manusia bisa keras kepala, ndableg, seperti itu? Karena
kehendak bebasnya, karena kebebasan pikirannya. Engkau boleh
memenjarakan badannya, menyakiti dan mengancamnya, tetapi engkau
tidak mungkin melenyapkan pikirannya.

Kebenaran tunggal itu melawan kodrat manusia sendiri. Kebenaran
tunggal itu antikebebasan, bahkan untuk dirinya sendiri. Kebenaran
tunggal adalah pembekuan pikiran. Mandek. Tertutup dan sumpek.
Manusia-manusia tertutup seperti ini membuat dunia berhenti
kehilangan cakrawala. Manusia bukan manusia lagi, hanyalah kawanan
bebek atau kerbau yang menuruti lecutan si pemilik kebenaran.

Kearifan lokal

Ada cara berpikir lain milik kearifan lokal Indonesia, terutama
manusia Indonesia yang nenek moyangnya hidup dari pertanian.
Indonesia adalah ribuan pulau di khatulistiwa dengan aneka ragam
hayati dan geografi. Apa pun yang ada di dunia ini ada di Indonesia.
Hutan, gunung, sungai, rawa-rawa, laut, teluk, tanah genteng,
bantaran, padang sabana, padang pasir, padang tandus, tundra, salju.
Gempa, gunung api, tanah longsor, tsunami, tanah turun-ambles, semua
ada di Indonesia.

Manusia Indonesia melihat itu semua tetapi tidak melihat. Namun,
nenek moyang orang Indonesia melihat apa yang dilihatnya, karena
mereka hidup bergantung pada alam ekologinya. Mereka bukan hanya
mampu melihat ekologi, tetapi juga mampu membaca ekologi. Mereka
hidup dengan alam, bersama alam, dan dalam alam. Bahkan menjajarkan
dirinya dengan alam. Dan alam itu bukan obyek mati yang bisa dibikin
semena-mena oleh manusia. Alam itu seperti manusia yang dapat murah
hati, penuh kasih sayang, tetapi juga dapat marah, merusak dan
mematikan.

Manusia mengenal kasih sayang dan kebencian, begitu pula alam. Kasih
sayang itu menumbuhkan kehidupan, sedangkan kebencian itu merusak
kehidupan. Kasih sayang dan kebencian adalah pola hubungan dua
pihak. Cinta itu muncul antara yang mencinta dan yang dicintai,
begitu pula kebencian. Nenek moyang Indonesia menyadari pluralisme
ini, perbedaan-perbedaan ini, kemungkinan- kemungkinan konflik ini.
Manusia Indonesia lebih memihak kepada kehidupan yang plural ini.
Pluralisme adalah realitas, tanpa kebhinnekaan hidup akan berhenti,
mati, pluralisme adalah hidup ini sendiri.

Bagaimana Anda dapat hidup bersebelahan dengan orang yang memusuhi
Anda karena kebenaran kita berbeda? Untuk apa menang kalau yang lain
tak ada? Kemenangan selalu membutuhkan kekalahan. Kehidupan dalam
kebenaran tunggal hanya mungkin kalau yang lain itu kalah dan
dimatikan. Kearifan lokal Indonesia menolak menang dan kalah, karena
berpihak pada prinsip kehidupan. Jadi, banci dan tak punya prinsip?
Justru prinsipnya memihak kepada kehidupan yang plural ini. Membunuh
kebenaran yang lain itu jahat, tidak etis. Lha, bagaimana itu
mungkin?

Itulah kebenaran paradoks. Kalau kebenaran saya berseberangan dengan
kebenaran Anda, maka masing-masing dari kita harus memparadokskan
diri. Saya mengenal dan memahami kebenaran Anda, dan Anda juga
mengenal dan memahami kebenaran saya. Karena saya mengenal Anda,
maka saya akan melakukan atau tidak melakukan hal-hal yang Anda
sukai atau Anda tidak sukai. Begitu pula Anda.

Justru itu dilakukan untuk mempertahankan prinsip masing-masing.
Dalam memahami yang lain, diri masing-masing tidak berubah. Saya
tetap saya, dan Anda tetap Anda. Itulah yang terjadi dalam kebenaran
paradoks. Kondisi paradoksal itulah yang akan menyelamatkan prinsip
kita masing-masing, karena saya tahu apa yang Anda mau dan Anda tahu
apa yang saya mau. Dan karenanya kita dapat bersikap yang dapat
menghindarkan konflik.

Kebenaran baru

Sikap paradoks seperti ini tak akan terjadi kalau kita tidak membuka
diri. Manusia tertutup tak mungkin hidup tanpa konflik, karena
manusia ini buta. Melihat tetapi tidak melihat. Manusia paradoks
adalah manusia terbuka tetapi tetap mempertahankan kebenaran
sendiri. Manusia Indonesia lama itu bukan jenis manusia sintesis,
banci, dan mencla-mencle. Kebenaran saya tetap ingin hidup, dan
kebenaran Anda juga tetap ingin hidup. Bagaimana hidup itu sendiri
mungkin kalau saya mematikan Anda atau Anda mematikan saya? Saya
tidak rela mati dan Anda juga tidak rela mati atau dimatikan. Apakah
hak hidup ini hanya untuk kebenaran saya saja?

Jadi, nilai kebenaran Indonesia itu paradoks. Tepo sliro manjing
ajur ajer. Subyek menjadikan dirinya obyek. Manusia memasuki pikiran
yang lain. Manusia menjadikan dirinya seperti alam. Saya tahu
bagaimana alam akan memberikan kasih sayangnya kepada saya, dan saya
juga tahu bagaimana alam akan marah dan membinasakan diri saya. Saya
tahu bagaimana Anda akan memberikan kasih sayang Anda kepada saya,
dan saya juga tahu bagaimana saya dapat membuat Anda marah.

Inilah kearifan harmoni itu. Harmoni hanya dapat dicapai dengan
mengembangkan sikap paradoksal. Membuka diri untuk yang lain.
Harmoni bukan sintesis peleburan yang melenyapkan kebenaran masing-
masing. Artinya rela melenyapkan kebenaran sendiri dengan membentuk
kebenaran baru yang merupakan sintesis kebenaran baru. Inilah
sebabnya banyak tokoh tidak berhasil ketika berusaha membentuk agama
baru dari campur aduk berbagai agama.

Harmoni itu tidak menetap dan konstan. Harmoni dicapai lewat
paradoks ketika gejala konflik memanas. Lalu kembali ke diri masing-
masing. Hidup memang berpotensi konflik, tetapi konflik itu tidak
konstan. Tegang terus itu tidak baik.

Sumber: Kompas, 26 Agustus 2006, oleh Jakob Sumardjo.

Enter content here

Enter content here

Enter supporting content here

One of the most universal -morning- ritual is to drink coffee:)