KEBUDAYAAN atau KEBUAYAAN?...
Al-Capucciono kali ini berisikan tanggapan tanggapan atas tulisan "Kebudayaan dalam Bencana" oleh
Radhar Panca Dahana. Kompas, 15 September 2006.
Jangan lupa, habis bangun terus mandi, gosok gigi lalu… minum kopi… :)
===============
Quote:
Dalam paragraf pembukanya yang indah, pengajar filsafat Bambang
Sugiharto memberi perumpamaan
yang menarik tentang peradaban dan
kebudayaan, posisinya bagi kita: manusia! (Kompas, Minggu, 23 Juli
2006). End of
quote
Kopitalisme:
Oh…masih adakah yang namanya "Kebudayaan" itu? Yang indah apanya? Untaian kata-katanya, atau
realitas dilapangan?
Nih tak bisikin sebuah 'Careless Wishper'… Ssstttt... Incase you didn't notice:
Yang ada dilapangan itu, bung… Bukan "Kebudayaan" tetapi "KEBUAYAAN"… MINUS 'D'..!
Quote:
Metafor itu saya kira menarik, terutama untuk menggambarkan
kompleksitas ke-"kalut"-an kebudayaan
belakangan ini dengan "aroma
yang kita ciptakan tak lagi kita pahami, sementara pagar yang pernah
kita bangun ambruk
dan tak lagi berarti". End of quote.
Kopitalisme:
Metafor yang pas itu adalah "Kebudayaan" kepada "Kebuayaan"…
Makanya, minumlah kopi banyak banyak… Terlalu lama anda anda yang terdidik ini tertidur rupanya…
Ayo bangun! Udah kesiangan tuh!...
Clingak clinguk..gosok gosok mata… eh..eh…pagar tadinya rimbun kehijauan, nyatanya udah
dimakan kambing, dinding rumah udah reyot disikat rayap dan lemari makan udah habis kesantap tikus tikus…Ha..ha…
Baru sadar to... Trus ngapain juga ada orang yang rela jumpalitan dengan rok mini segala macam, jika
aku ngorek-ngorek tajam para 'budayawan' (juga sosiolog) Akade...Mistik!... ?
Quote:
Paragraf selanjutnya (juga paragraf-paragraf yang mengikutinya hingga
akhir) coba
menjelaskan dengan cara sederhana dan lugas, bagaimana
kita memahami reaksi negatif dari manusia dalam menghadapi "pagar"
kebudayaan yang ambruk itu.End of quote
Kopitalisme:
Anda ini masih punya 'nyali' atau mungkin malah 'kagak melek'… Nggak ada lagi itu "kebudayaan"
yang ada adalah "Kebuayaan"…
Nah, menghadapi "kebuayaan" itu, cara yang saya lakukan, sangat sederhana: Minum
Kopi dan mentertawai kepintaran orang pintar… Lalu, "act locally" and "think and linked globally" even while I am "drinking
coffee"…
Quote:
Ada sebagian
pihak yang tidak peduli, sebagian lain menganggapnya
lumrah saja. Sebagian juga merasa perlu mencari alternatif atau jalan
keluar. Bisa juga bagian lain, tidak menerima kenyataan tersebut.
End of quote.
Kopitalisme:
Saya -personaly- mencari alternative dan jalan keluar, yang saya tempuh/gunakan
sendiri. Karena jelas saya tidak menerima kenyataan tersebut, lalu sekalian meninggalkan Negri "Kebuayaan" itu. Mungkin untuk
selamanya, sebelum "PatanYali Factor" terjawab…
Quote:
Namun, ada juga identifikasi lain dari reaksi masyarakat kita
terhadap kenyataan
tersebut: menolak realitas kultural yang baru itu
dengan tetap tenggelam dalam idealisasi diri yang sebenarnya kadang
ideologis, kadang mistis, tepatnya a-realistis. End of quote
Kopitalisme:
Gua udah luruskan bahwa bukan 'agama' saja yang bisa jadi 'opium'… 'Ideologi', juga bisa jadi
opium!...
Mangkanya, nggak ada ideology-ideologian, mistik-mistikan, de-el-el… buat gua… Nggak
ada itu 'rumah kiri' (Lenin/Marxist) "rumah kanan" adanya hanya "RUMAH REOT" bagi "Kopitalisme"… "Rumah Reot" itu sedang
'terbakar' diluar banyak 'buaya' didalam banyak 'tikus' sementara penghuninya (orang orang pintar dan terdidik) asyik berseminar…
Ha..ha..ha..
Jadi, saya, SeksPeare, Kopitalisme, justru tidak ada dalam 'klassifikasi' tersebut diatas…
Anda (penulis dan pembaca) sendiri ada dimana?...
Quote:
…Akan tetapi, juga keberanian awal untuk menerima diri
sendiri sebagai sesuatu yang retak,
yang ambruk. End of quote.
Kopitalisme:
Gue udah sarankan untuk "mentertawai diri" kok…sejak tahun tahun lalu…kagak didengar
karena gue ini orang kampung… Kagak dimanja oleh media besar, kayak anda anda yang hidup di 'puser'..eh…'pusat'…
gitu lho…
Quote:
Dan, masing-masing kita saat ini, tengah menyusun diri dari retakan-
retakan atau
puing-puing ambrukan itu. Menjadi sebuah mosaik yang
dalam tahap ini mungkin tak berwujud, belum bernama, dan sebagainya. End of quote
Kopitalisme:
Klausul 1.
"Apalah arti sebuah nama dalam sebuah 'Peradaban Kebuayaan!" SeksPeare.
Klausul 2.
"... Let's drink coffee instead and hear the music…": SeksPeare…
Klausul 3.
Maklum 'mozaiknya' cuman dua biji… "Kompatiologi" dan "Kopitalisme"
Klausul 4:
"Kompatiologi" Sudah punya nama, dan mulai "berbentuk" … (Congratulation, again)
Klausul 5:
"Kopitalisme" nggak akan ada bentuk (non institutional)…wong, namanya juga
'perspektif'… Namanya/Simbol/Labelnya? Wah… Soal 'nama' kembali aja ke klausul 1 & 2.
Quote:
Artinya, kita membutuhkan—sebagai prakondisi menghadapi hidup atau
kenyataan
itu sendiri—satu "identitas" dasar atau mula. Setidaknya
untuk memberi kita alasan atau pijakan ke arah mana kita
berjalan,
asal mana kita bermula, dan kenapa kita melakukannya.
End of quote
Kopitalisme:
"Mejanya" harus "digebrak" dulu… Kalau nggak ada yang mau nge-gebrak..kalian ini masih tidur
hingga kesiangan… Jangan lupa minum kopi, dan gosok gigi..ha..ha..ha…
Quote:
…Akan tetapi, juga keberanian awal untuk menerima diri
sendiri sebagai sesuatu yang retak,
yang ambruk. End of quote.
Kopitalisme:
Gue udah sarankan untuk "mentertawai diri" kok…sejak tahun tahun lalu…kagak didengar
karena gue ini orang kampung… Kagak dimanja oleh media besar, kayak anda anda yang hidup di 'puser'..eh…'pusat'…
gitu lho…
Quote:
Betapa menarik jika kita tidak menolak itu semua dalam penjelasan-
penjelasan teologis,
ideologis, mistis, atau spekulasi lainnya.
Bersembunyi dalam rintihan yang berbunyi doa, tobat, dalam kamar-
kamar
palsu ritus-ritus religius yang baru, tetapi menerimanya
sebagai kelumrahan natural dan kultural. Sebagai realitas yang
merupakan bagian inheren dari diri kita. Hidup kita adalah bencana.
Dan diri kita adalah puing-puing di antaranya. End of quote.
Kopitalisme:
"Kopitalisme" nggak akan capek mengorek dan menggoreng otak orang orang yang bersembunyi dalam doa,
tobat dan kamar kamar palsu ritus ritus religius lama atau baru… Semua harus mengalami proses "Re-Interpretasi" dan
"Re-Thinking"… Jangankan ritus dan ruang ruang 'agama' – 'akademik' dll,… "Tuhan" sekalipun harus tunduk
terhadap kedua 'proses' itu… Dalam perspektif "Kopitalisme" Nggak ada lagi komunitas yang terlihat "hanya tuhan diatasmu"
atau "Hanya status/gelar yang ada dalam dirimu"… Tetapi yang ada adalah "Hanya taik aja yang ada diperutmu"… (Where
your status is just a caricature)
Remember: Akade… MISTIK?...
Kata diatas, saya buat dan ciptakan adalah untuk mentertawakan pola fikir "text book thinking" dimana
"text" dan "theory" ter-proyeksikan sebagai "mantra" kemudian apa yang terbaca dalam mantra itu, nyatanya tidak nyata dilapangan…
Misalkan kata kata indah tentang "Kebudayaan" ternyata yang terdapat dilapangan adalah "Kebuayaan"… Nah, para 'orang
pintar' secara text book thinking, inilah yang terkategori "Akade… MISTIK"…
Pada "Akade… Mistik", disitu kata "mistik" dimana tidak saya artikan secara literal dalam
artian hal hal 'supra-natural'. Tetapi saya artikan sebagai suatu hal yang tidak nampak/nyata dalam alam realitas. Contoh:
Kebudayaan vs Kebuayaan, atau statistic statistic yang tidak real, dll.
Hal hal 'supra natural' (pada tahap tertentu bisa diterima secara empiris) terkadang lebih real
dibanding 'statistik angka kemiskinan' misalkan… Dan, sekalipun bersifat 'subjektif' hal hal 'supra natural' bisa terasa
"real" bagi seseorang yang mengalaminya…
Nah,… Untuk itu, sekalian aja saya ajak untuk kita semua ber-mistik ria… Nih aku pengen
nanya… Apa pesan 'mistik' dibalik meninggalnya 'Crocodile Hunter'?
Pesannya adalah:
Sang pahlawan 'dunia liar' itu meninggalkan pesan pada kalian yang 'pintar pintar'
sebuah pekerjaan rumah untuk memelihara "Peradaban" dan "Kebuayaan" kalian sendiri di dunia kalian sendiri… ha..ha..ha..
May FUN be with you...
Kopitalisme