Enter content here

Kopitalisme

Al-Capuccino: PROYEKSI...
Home | The Author | Kumaniora | Hole Spirit | KutuKata | Etalase | Das KOPIkenTal | Kitab al-Capuccino | Tafsir al-Gitar | Perpuskataan | F.U.C.K | Buku Tamu | Kopitalisme Toolbar | Partners | Sponsor | Cafeist Prophecies | Hukum Hukum Kopitalisme | PatanYali Factor | Forum Diskusi

Al-Capuccino: PROYEKSI…
 
Mata pelajaran yang paling saya gemari ketika masih SMA adalah mata pelajaran "Proyeksi". Saking gemarnya atas mata pelajaran tersebut, saya sering membolos. Karena yakin bahwa saya pasti tahu dan menguasai subjek itu.
 
Suatu ketika saya dan beberapa kawan memutuskan untuk membolos pada jam pelajaran 'Proyeksi' tersebut. Cilaka tigabelas, rupanya kami semua kepergok guru piket dan kemudian kami digiring ke ruang BP (Badan Pembinaan). Dan tibalah saatnya kami diinterogasi oleh guru Pembimbing, dengan pertanyaan "Mata pelajaran apa sekarang? Siapa gurunya?" Saya dalam urutan kedua dari 'pembolos' yang harus menjawab pertanyaan itu, karena yang pertama bisa menjawab mata pelajaran apa, tetapi tidak mengetahui nama guru pelajaran 'Proyeksi' itu.
 
Karena keseringan membolos, saya jadi sadar ternyata tak satupun kami kaum pembolos mengetahui nama guru 'Proyeksi' tersebut. Dengan gelagapan saya lalu nyerocos…" Anu, Bu.. Itu bapak yang mukanya mirip Rinto Harahap"… Maka meledaklah tawa semua kaum pembolos. Sementara guru Pembimbing kami berusaha untuk tidak ikut tertawa dan mempertahankan ekspresi kewibawaannya… Hingga sekarang saya tidak mengingat nama guru tersebut…
 
Singkat cerita, lepaslah saya dari masa masa kocak bin kacau di SMA, dan -reseh reseh gini- sempat pula lulus ujian masuk Perguruan Tinggi, dengan dua pilihan, Fak. Hukum atau Fak. Teknik, Arsitektur. Pilihan saya jatuh ke Arsitektur!
 
Ketemu lagilah dengan urusan "Proyeksi" ini, dan rupanya 'penyakit' pembolosan saya kambuh, bukan karena nggak suka dengan Mata Kuliah "Teknik Presentase" dimana Mahasiswa mengikuti pelajaran tersebut berupa sketsa objek di lapangan terbuka. Tetapi karena saya selalu menganggap bahwa sayalah yang terbaik atas soal sketsa dan proyeksi, apapun objeknya. Karenanya,  dalam mensketsa dan memproyeksikan berbagai bentuk objek bangunan atau objek apapun tanpa bantuan penggaris, saya selalu yang tercepat dan terakurat, dengan demikian banyak waktu lowong khusus yang tersisa dalam mata pelajaran tersebut, lalu dengan santai saya ke kantin: Ngopi!  
 
Ujian Final Test, saya dikagetkan oleh sebuah 'peraturan' bahwa setiap Mahasiswa yang mengikuti ujian "Tehnik Presentase" diharuskan membawa mistar penggaris. Oleh Ketua Team -Ibu Rieke- pengajar mata kuliah tersebut yang terkenal 'angkuh' dan suka menahan angka hasil ujian para Mahasiswanya.
Tentu saja saya protes, mengingat 'teknik presentase' itu seharusnya tidak menggunakan mistar, karena proses 'sketsa' itu semestinya disituasikan dalam keadaan 'darurat' di lapangan. Lalu saya -yang juga angkuh- ini mengambil jalan simple: Keluar dari ruangan karena memutuskan untuk tidak mengikuti ujian final tersebut.
 
Ketika pengumuman hasil ujian, ternyata nilai mata kuliah itu saya mendapatkan nilai 'B'!... Keheranan saya terjawab oleh salah satu anggota team pengajar 'Teknik Presentase' -Ibu Soraya (Adik penyanyi Andi Mariam Mattalatta)-  bahwa seandainya saya ikut ujian saya pasti mendapatkan nilai 'A'! Tetapi sedikitpun saya tidak menyesal, meskipun hanya mendapat nilai 'B'. Karena argument saya tentang 'sketsa' sebagai proses perencanaan yang sifatnya 'darurat' ternyata make -very- sense!   
 
Lalu, apa hubungan antara "Proyeksi" dengan "Kopitalisme"?... Hubungannya adalah "Kopitalisme" melalui tulisan "DAS KOPIkenTAL" juga adalah sebuah "sketsa" yang bisa diproyeksikan kedalam artikel maupun tulisan yang muncul belakangan pada media-media offline.
 
Tujuannya adalah untuk memperlihatkan kepada para pembaca "Kopitalisme" bahwa proses "proyeksi" itu tidak hanya terdapat dalam hal "sketsa" pada proses menggambar, tetapi juga terdapat proses "sketsa" dan "proyeksi" terhadap lahirnya berbagai pemahaman, ilmu bahkan dari berbagai dimensi kehidupan manusia.
Melalui fase "Sketsa" dan "Proyeksi" inilah terdapat proses "Creative Truth" sebelum sebuah pemahaman menuju fase "Truth" lainnya, diantaranya "Scientific Truth" ataupun "Religious Truth".
 
Maka, "RESPECT the PROCESS!" … "Hormatilah PROSES-nya!" Demikian sergah Niegel suatu ketika, seorang ilmuan criminal dalam serial  tv berjudul "Crossing Jordan" pada channel "Hallmark".
 
"RESPECT the PROCESS!" juga diillustrasikan oleh Ms. Lianny Hendranatta melalui 'sabda': Mengolok olok Seruling Bambu, berikut:
 
PENGOLOK: hebat ya kamu sekarang bisa berbangga, jadi benda yg indah dan ditempatkan mulia dibibir peniupmu untuk mengalunkan suara indahmu..! padahal dulunya kamu hanya sebatang bamboo ditepi kali.
SERULING : wah kamu hanya liat saya yg sekarang, tapi taukah kamu untuk jadi seperti sekarang, saya harus dicabut, dipenggal dari kehidupan kelompok saya sebagai serumpun bamboo, terus digosok pake hampas supaya licin, dikerok pake pisau supaya indah, dilubangi supaya mampu mengeluarkan suara merdu biar ada yang mau mendengar..! (lianny Hendranatta/Diajar Berfikir Negatif/Apakabar/13 September 2006)
 
Menghormati "PROSES" sangat perlu utamanya bagi mental "Terima Beres" yang hanya melihat segala sesuatu pada "Hasil Akhir".  Sebuah "mental" yang termasuk dalam kategori "Unfortunate Culture".
 
Demikianlah, tulisan Al-Capuccino ini juga saya dedikasikan kepada salah seorang guru SMA saya dahulu yang hingga kini saya tak tahu namanya.
 
Sekaligus sebagai "maklumat" bahwa mulai saat ini, setiap tulisan "Kopitalisme" sebisanya akan kami sertakan link "Proyeksi" terhadap artikel dan tulisan yang 'alur logikanya' serupa dengan tulisan tulisan "Kopitalisme".
 
Contohnya: DAS KOPIkenTAL: Trust, Businesses & NGOs (1 Agustus 2006) terproyeksikan dalam  artikel "Memadukan Nalar, Etika dan Hati" oleh ST. Sularto, yang terbit satu setengah bulan kemudian,  yakni 16 September 2006.
 
May FUN be with you...
 
Kopitalisme

Enter content here

Enter content here

Enter supporting content here

One of the most universal -morning- ritual is to drink coffee:)