Al-Capuccino:
PatanYali Factors
PatanYali -The Great Traveller- kembali segar bugar setelah seminggu lamanya
bermain hutan, melakukan hiking diperbukitan sambil mengumpulkan berkilo kilo
biji chestnut yang jatuh dari pohonnya… Sebuah 'ritual' tahunan setiap menjelang
hari ulang tahunnya di bulan Oktober. Telah bertahun tahun lamanya dia hidup
dan merayakan hari lahirnya di Negri orang… Yang lucunya ketika di Negri
sendiri, dia tidak ingat kapan terakhir dia merayakannya dengan keluarga atau
sahabatnya sendiri… Mungkin memang tidak pernah dan tidak penting…
Dalam 'perantauannya' PatanYali terus menyimpan sebuah 'Kitab' yang
bertuliskan 'PatanYali Factors'… Dan kini perjalanannya ditemani Sang Guru
Besar bernama ' Mali '.
Mereka kini tiba disebuah kota yang dipenuhi dengan hijaunya taman taman kota
dengan udara sejuk bersih, lalu mencari warung kopi untuk sekedar ngaso.
Sambil minum kopi, mereka mengamati suasana kira kanan. Di salah satu meja
ada Gospodin Boris mantan pelaut yang asyik menceritakan pada para sohibnya
pengalamannya saat sedang dirantau…
"Dobro jutro, kako ste
vi?" Sapa PatanYali pada G. Boris, "Izversno!.. . Super!"
Jawabnya gembira…
PatanYali lalu membuka 'Kitab PatanYali Factors' ditangannya, sambil membolak
balik halaman demi halaman, ingatannya melambung jauh berjarak setengah
bumi ke kampung halamannya yakni sebuah kota 'imajiner' yang disebutnya
sebagai kota 'Klejzkavania'… Seperti yang disabdakan oleh P. T. Devil… "In
Klejzkavania, skeletons walk, in Klejzkavania children eat rocks'… Disana,
tengkorak bisa berjalan, dan anak kecil memakan bebatuan karena lapar…
Di sebuah warung kopi di Klejzkavania, terdapat kegaduhan suasana diskusi para
pengunjungnya dengan berbagai topic, dan sebagai 'penghias' suasana berdiskusi
sambil minum kopi, terdengar alunan musik slow rock dari 'Bon Jovi' berjudul 'It's
My Life'…
Di sudut ruangan ada loper menawarkan PatanYali surat kabar 'Batam Post'
dengan artikel menyolok berjudul "MENYOAL KUALITAS PABRIK SARJANA
PatanYali tersenyum simpul dan
berkata pada ' Mali ', "Artikel ini masih belum
cukup, masih banyak yang kurang, artinya saya belum selesai... Setidaknya
saya tahu bahwa suaraku cukup lantang… because you know me… I ain't gonna
be just a face in the crowd…" Demikian katanya sambil menghirup kopi
kesukaannya 'Franck'. Terdengar firman yang disabdakan oleh Bon Jovi…
"… This ain't a
song for the broken-hearted… No silent prayer for the faith-
departed I ain't gonna be just a face in the crowd… You're gonna hear my voice…
When I shout it out loud!"…
Tafsir a'la Kopitalisme: "Ini bukan lagu tentang patah hati… Bukan pula doa diam
tentang keyakinan yang retak… Saya bukanlah sekedar 'wajah' dikeramaian…
Kamu akan mendengarkan suaraku, ketika saya berteriak lantang!..."
Sebatang rokok Ronhill kini menggelantung dibibir PatanYali menikmati lirik lagu
rock tersebut… Sejurus kemudian dia mengajak ' Mali ' untuk pindah meja
bergabung dengan mereka yang sementara berdiskusi "Alasan Mempertahankan
NKRI?"
Dan, diantara para pengunjung, terdapat sebuah meja dimana duduk W Kasman ,
HZM...
Terdengar HZM berkata "Perbaikan kehidupan bermasyarakat membutuhkan
teladan prilaku, tdk cukup dg rumusan ilmiah. Empati adalah praksis riil, bukan
konsep."
HZM diam sebentar lalu melanjutkan " Pada tingkat krisis yang kita alami, kini,
menyalakan sebatang lilin jauhlebih berharga ketimbang peta yang komprehensif
tentang kegelapan. Aksi perbaikan yang kecil dan terserak, lebih dibutuhkan
ketimbang khotbah panjang para pemimpin
oportunis. Sepiring makanan bagi
para korban busung lapar lebih berarti daripada setumpuk rumusan hasil dari
seminar kemiskinan. (HZM/FPK/Alasan Mempertahankan NKRI?/5 Okt. 2006)
PatanYali menimpali " Memang betul tentang apa yang anda maksud, kita
membutuhkan teladan… Dan keteladanan bisa diambil dari sosok yang justru
tidak harus akrab dengan kamera dan media public… sesungguhnya lumayan
banyak bertebaran… Sayangnya mereka itu dianggap sepele saja, tidak cukup
dianggap… Menurut saya kita kitalah yang bisa mengumpulkan contoh contoh
berserakan itu… Dulu pernah kami coba dalam website untuk mailing list
"Etalase Indonesia" diwebsite tersebut kami -saya, Eurasia man, Teewoel, Bung
Satrio Arismunandar- , coba mengumpulkan berbagai cerita kecil yang
berserakan di seluruh Nusantara… Istilah anda "perbaikan kecil berserakan" itu
dulu saya pernah singgung dengan istilah 'cluster'… local initiators…"
HZM melanjutkan "Persoalan terbesar budaya Indonesia antara lain tercermin
pada: para intelektual yang steril di ruang konsepsi, melakukan INTELLECTUAL
EXERCISE tanpa peduli apakah konsepnya memiliki relevansi terhadap
kemaslahatan bersama. Intelektual model begini beranggapan konsepsi
merupakan end result dari karya kemanusiaannya.
PatanYali lalu terbahak bahak "Ha.. ha… ha… Intellectual exercise!... N.A.T.O…
Talk… Talk… Talk… Suatu penyakir kanker yang sangat akut!... Saya senang
mendengar akhirnya ada yang mengangkat term tersebut… setelah dulu saya
singgung dalam diskusi pada thread "Mencari Identitas Indonesia … Dan dimilis
milis lainnya kira kira sejak setahun lalu..."
HZM melanjutkan "Atau ambil contoh kredo ttg orang Indoensia yang sangat
religius. Religiusitas manusia Indoensia cenderung berhenti pada tataran
keyakinan, tidak pada prilaku. Dalam praksis hidup kesehariannya manusia
religius itu lebih banyak melakukan pengrusakan, atas nama keyakinan."
PatanYali "Sesungguhnya jika mau repot sedikit, buatlah tulisan sederhana,
photo copy lalu sebarkan di warkop warkop untuk didiskusikan… Mau lebih repot,
dekati tokoh agama dilingkunagn sekitar anda, lalu berikan tulisan singkat
tentang point anda tersebut, dan diskusikan dengan mereka… Bukalah ruang
dialog meskipun secara non formal tetapi kontinyu…apa lagi kalo sambil minum
kopi… Asyik lho… Asal siap mental aja, karena tidak serta merta mereka akan
setuju… Butuh waktu… Itu kalau mau repot sedikit aja… "
Sampai disini, WKasman yang tadi diam angkat suara… "Teknologi juga
mengakibatkan perubahan budaya, komunikasi dan informasi yang maju juga
mempengaruhi budaya. Tetapi toh tidak pernah ada suara dari kelompok
intelektual yang tajam menyorotinya, dan yang kemudian diterjemahkan ke dalam
bentuk cita-cita bersama dan juga ke level perencanaan. (WKasman/FPK/ Alasan Mempertahankan NKRI/5 Okt. 2006)
Mendengar komentar itu, PatanYali lagi lagi terkekeh… " He..he..he… Lho,
seperti yang saya sorot selama ini tentang "intelektual" kita yang asyik
Intellectual exercise… Juga barusan disinggung oleh Pak HZM… Mereka tersebut 'steril' diruang 'meditasi
teori' masing masing… Jelas aja mereka nggak
bersuara… Wong asyik 'meditasi' ... Paling paling bersuara ketika minta gajinya
dinaikkan,,, ha..ha..ha…
Gini bung, tentang 'teknologi' dan 'cita cita bersama' bukankah telah pernah saya
tunjukkan 'jalan yang lurus' mengenai ACT locally but THINK and LINKED
globally?... Disitu peran teknologi sangat vital… "Intelektual" kita jangan diharap
bisa meramu perencanaannya, apalagi banyak "Mister Flinstone" yang hidup
dizaman batu…"
WKasman melanjutkan titahnya " Masih diperlukan proses membangun nilai,
bangsa Indonesia berkembang dan menuntut adanya kesengajaan untuk
mendorong dan membentuk diversifikasi sosial yang jelas, memerlukan tatanan
keorganisasian yang berkembang. Apakah ada semacam pikiran yang
dikembangkan untuk itu? Yang kita tahu barangkali hanyalah demokrasi
terpimpin, dictatorship stabilitas politik, dan sekarang demokratisasi yang
bergerak struktural."
PatanYali menimpali "Kondisi ini yang mengakibatkan lumpuhnya intelektualitas
muda… Terjadi proses 'bonsai' kiri kanan… Akibatnya melahirkan produk sarjana
yang kredibilitas hasil dunia "Industri Pendidikan" dengan berkadar melempem…"
Sampai disini, PatanYali menghempaskan surat kabar "Batam Post" di atas
meja, cangkir cangkir kopi sampai bergetar memercikkan tumapah disana sini…
Lalu kemudian dia menambahkan…
" Di warkop lain saya
pernah menyatakan kekhawatiran saya tentang tidak
adanya lahir seorang VISIONER yang visinya 'menembus' jauh kedepan…
Mendahului para sosiolog dan budayawan akademistik kita… Coba, mana pernah
terdengar "PatanYali Factor-A" terlahir dari bibir mereka?..." PatanYali lalu
membuka lembaran 'Kitab' PatanYali Factors didepan W. Kasman, HZM, dll…
WKasman tetap melanjutkan titahnya itu… " Apakah Anda pernah mendengar
visi (misalnya dari kampus) sejak globalisasi digulirkan dan mesti bagaimana
Bangsa Indonesia bergerak?
PatanYali menunjuk ke lembaran didepannya "Nih,… Mampukah Indonesia
Membangun Ekonomi Melalui Pendekatan Socio-Religio- Cultural diera
Globalisasi? ... Mana ada dari mereka mempertanyakan "PatanYali Factor"
tersebut?... Mengapa justru dari seorang traveller seperti saya?..."
Barangkali mereka bertanya, mengapa PatanYali begitu jengkel dengan mereka
yang hanya senang ber Intellectual Exercise, baik di milis maupun di meja meja
seminar…
Padahal yang sedang dipertaruhkan adalah "Hidup" atau "Matinya" Negri nan
indah bernama " Indonesia "… Sementara -untuk orang orang Indonesia- Bon Jovi
mungkin punya jawaban…
(Chorus)
It's my life… And it's now or never… 'Cause I ain't gonna live forever
I just want to live while I'm
alive… (It's my life)
Inilah hidupku (orang orang Indonesia )… Sekarang atau tidak sama sekali…
Sebab aku (dan orang orang Indonesia ) takkan hidup selamanya… Aku hanya
ingin menjalani kehidupan dalam keadaan 'berani untuk hidup'…
Sedangakan Bon Jovi punya jawaban khusus terhadap PatanYali sbb
" My heart is like an open highway… Like Frankie said… I did it my way… I just
want to live while I'm alive…
'Cause it's my life!"...
"Jiwaku (PatanYali) bagai
jalan raya yang terbuka luas… Seperti Franky (Frank
Sinatra) katakan "I did it my way"… Saya (PatanYali) hanya ingin menjalani
kehidupan dalam kondisi 'berani untuk hidup'… Sebab ini adalah kehidupanku! "
Yah, itulah kehidupan PatanYali... yang akan terus merantau, travelling ke sudut
sudut dunia, dari lautan Adriatic ke pegunungan Rocky Mountain ...
Dengan sebuah "Sumpah PatanYali" : Takkan aku pulang ke negriku sebelum "PatanYali Factors" terjawab tuntas… Like Franky said 'I did it my
way'… "Sumpah PatanYali" is "My
Way" to find the answers...
Apa ada diantara pembaca bisa menjawab "PatanYali Factor"?... ( Ada
hadiahnya, lho...:-)).. .
May FUN be with you…
Kopitalisme
Note Kopitalisme: "Imajinasi" sangat diperlukan sebagai wadah dalam
pembentukan mentalitas 'visioner'… Minimal untuk kepentingan masa depan diri
sendiri…