Al-Capuccino: GEBRAK NUSANTARA
Gerakan Budaya Rakyat Anti Korupsi se-Nusantara
Hari ini, 27 September, 3 tahun lalu, 2003 sejak jam 5-30 pagi, di
Makassar berkumpullah ribuan warga
kota 'Angingmammiri' di Pantai
Losari. Mereka terdiri dari warga
umum, aktifis LSM, Pemerintah,
Pengusaha, Akademisi, pegawai dan
pekerja untuk mengumandangkan
'Makassar
for Peace'
Di hari yang sama, di tempat yang berbeda, yakni 'Museum Kota' juga
terjadi even yang sama dengan kegiatan
berbeda 'Pameran Kartun dan
Karikatur' -juga- dengan thema "Makassar
for Peace", yang telah
dimulai seminggu sebelumnya, yakni
21 September 2001. Namun
secara resmi dibuka oleh Wakil Walikota
Makasar pada hari tanggal 27
September tersebut. Beliau telah
hadir ditempat sejak jam 6-30 pagi,
dengan sabar menunggu di depan pagar Museum Kota yang pintunya
masih tertutup. Sementara Walikota sendiri berhalangan karena hari itu bertepatan dengan kunjungan Wakil Presiden ke Makassar.
Inisiator "Makassar for Peace" adalah "Glassnet" (Global Social
Strengthening Network & Global
Spiritual Solidarity Network) Sebuah
NGO non-institutional dengan 'core
activity' social-ekonomi.
Sedangkan tanggal 27 September 2003
adalah "International Day of
Tourism" dan 21 September adalah "International
Day of Peace". Even
tersebut disiarkan oleh sekurangnya 3
TV Swasta Nasional sempat
ditayangkan sebagai Kaledioskop akhir tahun 2003, dan akan diekspose
ke lebih dari 75 juta email di seluruh dunia.
Dua bulan sebelumnya, telah ada sebuah situs Internasional yang
memuat visi "Glassnet" sebagai berikut:
Resources on 'Strengthening Communities' 17 Juli 2003.
Glassnet (Global Social Strengthening Network and Global Spiritual Solidarity Network) advocates comprehensive sustainable
development, an approach which addresses the ecological, economic, cultural, social, human, and spiritual aspects of development.
As a network it also seeks to advance social strengthening and spiritual solidarity, referring to either the
resistance of civil society to totalitarian tendencies in the state and market or, where appropriate, the critical engagement
of CIVIL SOCIETY with BUSINESSES and GOVERNMENT to solve social problems in an atmosphere of principled cooperation and mutual
respect. (http://www.hcibib.org/communities/)
Di sebuah warung kopi sederhana tak jauh dari lokasi berkumpulnya ribuan massa,
saya sebagai Penggagas asyik minum kopi dengan beberapa orang sohib kental, yang salah satunya kebetulan seorang pejabat sekaligus
Rektor disalah satu Universitas swasta.
Sambil minum kopi, dan ngobrol berbagai thema termasuk thema soal korupsi,dll. Saat itu saya sedang asyik membaca beberapa
carik kertas hasil printing dari internet, semalam sebelumnya, dimana tertulis:
… Here is a peculiar argument regarding
DSR and denial of service. It relies on some intuitive economic ideas. See the 'Zombie Note' about DDOS & DSR.
… There are a few different network styles suggested in these pages.
The two major design thrusts are DSR and Glassnet.
This is a note to contrast and delve deeper into what these foundational styles can provide.
DSR is a kind of network protocol
that pays attention to monetary incentives of node operators. It represents perhaps the extreme in distributed network management.
It encourages, indeed requires, a class of scouting and routing services to discover where network clients are, and tell how
to reach them. Again incentives are provided and its very low overhead payment scheme allows commercial competition in such
low cost services.
Glassnet concentrates on a capability based node architecture. It explores styles of building applications that are
distributed within such a network. It pays no attention to incentives….( http://www.cap-lore.com/CapTheory/Dist/Found.html )
Sedang asyik mecoba untuk mengerti, menyelami arti dan makna artikel tersebut, salah seorang sohib bertanya
"Kenapa tidak hadir dalam kumpulan massa di pantai?
Kan kamu harus kasih penjelasan pada media dan wartawan,
to?"
Saya jawab "Ho..ho…untuk bicara di depan media dan wartawan kita tidak perlu capek-capek mencari orang, pasti
banyak yang mau… Siapa yang nggak mau mukanya nampang dilayar tipi?... Lagi pula saya punya 'agenda' tersendiri soal
itu…"
"Agenda tersembunyi? Apa antu mae bela" (Apa maksudnya itu?) Tanya sohib yang lain.
"Saya akan buktikan nanti setelah ini apa yang saya maksud dengan 'Unfortunate Culture' salah satunya akan terlihat
disini…"
"Kan kamu bilang salah satu budaya kita sekarang
adalah Korupsi… Itu tidak perlu lagi dibuktikan to?" Jawab sohib yang Pejabat dan Rektor tersebut.
"Iyak kan pak, makanya salah satu kartun dan karikatur
karya saya yang saya pamerkan bersama sama rekan seniman lainnya itu berjudul "PoliTikus"… Itu sudah ada di Museum (
http://karikatour.blogspot.com )… Sedangkan "Unfortunate Culture" lainnya… Nanti setelah
"Makassar for Peace" ini selesai acaranya…"
"Ha..ha.. dipamerkan tepat didepan hidung pemda… Difasilitasi Pemda lagi…gimana itu pak…tidak tersinggung?"
Mashud nyeletuk sambil bertanya pada sang Pejabat…
"Wah, kan bagus, saya sendiri mendukung… Yang
tersinggung nanti itu mereka mereka yang korup… Kalau tidak korup, kan
untuk apa tersinggung to?" Jawabnya enteng. Saya akui masih ada pejabat yang punya hidup sederhana, meskipun memang jumlahnya
sedikit.
"Kenapa tidak bikin semacam 'Gerakan Nasional'?..." Tanya teman yang lain…
"Akh… Itu semua seremonial! Nggak FUN!... Nggak asyik…dan bosan… Mending caraku… Yang 'FUN'
ajalah… Lagipula kamu ini tinggal dikampung tau!… Kalau soal 'gernas-gernasan' itu maenannya orang orang hebat
yang hidup di puser… Eh…pusat… Gini gini aku maenannya di pusat juga… Pusat Dunia!...ha..ha.."…
Tiba tiba hpku berdering, dari salah satu crew lokal Indosiar di Makassar…"Oe!...Ada Apa Ilyas?" Tanya saya…
"Kemanako… Kenapa tidak ada disini… Semua bos-bos sudah bicara dan diwawancarai… " Tanya si Ilyas.
"Wah… kalau bos bos sudah bicara, itukan memang tugasnya... Saya dari dulu memang nggak tau bicara… Saya
sukanya 'Do it" tentu kata tersebut terdengar sebagai "duit" (Siapa sih yang nggak senang duit, apalagi kroco kere kayak aku
ini?...)
Setelah itu diskusi berlanjut, kali ini soal "Korupsi" ketika Rachmad salah satu aktifis Glassnet, bertanya "Koridor
untuk melawan korupsi itukan Hukum… Kenapa kamu mau coba dengan jalur 'Budaya' dan lewat kartun dan karikatur…?"
"Wah…Sayakan bukan Sarjana Hukum bos… Saya ini cuma peminum kopi… Tuh, ada jutaan Sarjana Hukum tapi
hanya ada ada satu Baharuddin Lopa, itupun sudah almarhum… Lagi pula kan
sudah banyak institusi institusi LSM yang mengawal secara hukum to?... Ada
banyak sudah yang turun kejalan berdemo, dll…. Sementara saya melihat Korupsi itu sudah meluas lebih luas dari dimensi
hukum itu sendiri… Nah, karena saya cuma peminum kopi, makanya cara saya ya… Membangun trik komunikasi lewat apa
saja… Termasuk seni…. Gitchu… Tahun tahun depan kalau saya masih disini… Nanti namanya "Gebrak Nusantara"…
Kalau saya sudah tidak disini, saya lewat internet aja… "
Selanjutnya pembicaraan berlangsung alot dan tak terasa waktu untuk pembukaan acara di Museum sudah berjalan, panitia
kebingungan mencari kami kami yang sedang ngobrol ngalor ngidul di warung kopi 'Tong Sang' di Jl. Pasar Ikan, tak jauh dari
Pantai. Pak Wakil Walikota sempat harus menunggu kami beberapa saat…
Setelah acara hari itu… Kami, diantaranya beberapa pengusaha, lsm, pejabat, ngumpul makan coto dirumah salah
satu sohib… Pak Nico (Ketua Asita) nyeletuk… Wah, dari mana saja tadi kamu…sampai bikin Wakil Walikota menunggu
padahal banyak kue yang beliau bawa untuk kita… Saya nyeletuk… "Yah… Namanya juga pameran karikatur…
Maka kita semua ini hanya karikatur… Where all the status is just a caricature too…" Semua tertawa terbahak bahak… Text yang tertulis dari visi saya diatas "… the critical engagement of CIVIL SOCIETY with BUSINESSES and GOVERNMENT to solve social problems
in an atmosphere of principled cooperation and mutual respect…"
Bisa terasa dan bukan hanya berupa text text belaka… Hari
itu, tepat 3 tahun yang lalu…
May FUN be with you…
Kopitalisme
http://kopitalisme.tk
http://kopitalisme.blogspot.com